Senin, 01 Desember 2014

MAKALAH DASAR-DASAR BIOTEKNOLOGI "TRANSLASI"



MAKALAH DASAR – DASAR BIOTEKNOLOGI

TRANSLASI




OLEH





Astri Wulandari
1302101010133


 





FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
2014

GENETIKA MIKROBA



MAKALAH MIKROBIOLOGI I
GENETIKA MIKROORGANISME

O
L
E
H

ASTRI WULANDARI
1302101010133







FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
2014


Senin, 19 Mei 2014

Laporan Penelitian Biostatistika Veteriner



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Permintaan produk hasil peternakan khususnya daging ayam terus meningkat. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya daya beli masyarakat dan masih tingginya tingkat pertumbuhan penduduk sehingga menyebabkan konsumsi per kapita maupun konsumsi secara total daging ayam terus melonjak naik.

Perkembangan industri perunggasan di Indonesia kini tampak sudah maju demikian pesat, namun senantiasa dihadapkan pada berbagai kendala yang juga ikut berkembang dan semakin kompleks. Usaha ternak ayam pedaging (broiler), untuk mencapai sukses tidak saja diperlukan modal besar dan keterampilan khusus yang memadai, tetapi juga pengelolaan maupun pemasaran produksi yang handal. (Mubyarto,1992)Jurnal Kedokteran Hewan Vol.9. No.2 Desember 2004 hal 193-205.

Ayam broiler  memiliki laju pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan ayam petelur (layer) oleh karenanya pada saat ayam tumbuh, laju pertumbuhan  juga meningkat sehingga kebutuhan energi dan proteinnya juga meningkat.

Terbatasnya produksi ayam broiler oleh perusahaan pembibitan yang ada di Indonesia saat ini dan harga pasaran yang relatif lebih murah, maka ayam broiler induk bibit muda (ayam potong BM) tetap merupakan sumber pasokan untuk memenuhi kebutuhan peternak ayam broiler.

Degan melihat dan memperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi daging ayam broiler di masyarakat, maka penulis sangat tertarik untuk mencari tahu seberapa besar pengaruh yang ditimbulkan dari faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi daging ayam broiler di Kota Banda Aceh . Namun dalam hal ini penulis juga mencoba untuk mengungkap seberapa besar pangaruh hari-hari besar dengan jumlah permintaan ayam broiler di pasaran serta penyakit-penyakit yang biasa menyerang ayam broiler.



1.2  Rumusan Masalah
a.       Bagaimana tingkat konsumsi daging ayam broiler di Kota Banda Aceh?
b.      Apa saja penyakit yang menyerang ayam broiler dan bagaimana cara pencegahannya?
c.       Apa saja faktor yang menyebabkan penurunan atau peningkatan konsumsi daging ayam broiler?

1.3  Tujuan dan Manfaat Penelitian
Ada beberapa tujuan dari penelitian ini, diantaranya :
·         Mengetahui tingkat konsumsi daging ayam broiler di Kota Banda Aceh.
·         Mengetahui apa saja penyakit yang menyerang ayam broiler dan mengetahui cara pencegahannya.
·         Mengetahui penyebab penurunan atau peningkatan konsumsi daging ayam broiler.

Adapun manfaat penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat konsumsi daging ayam broiler di kota Banda Aceh serta faktor-faktor yag mempengaruhinya. Selain itu mengetahui apa saja penyakit yang menyerang ayam broiler dan mengetahui cara pencegahannya agar produksi ayam broiler terus meningkat sehingga kebutuhan pasar dapat terpenuhi dengan baik.

1.4  Metode Pengumpulan Data
Pada penelitian ini kami menggunakan teknik observasi yaitu dengan mewawancarai secara langsung beberapa penjual ayam potong di Pasar Penayong Banda Aceh sebagai sampel penelitian serta peternak ayam potong.

1.5  Ruang Lingkup Penelitian
a.       Variabel Penelitian
Variabel bebas yaitu faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi daging ayam broiler.
b.      Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah pedagang ayam broiler.
c.       Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Pasar Penayong Banda Aceh.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Ayam Broiler
            Ayam broiler merupakan hasil teknologi yaitu persilangan antara ayam Cornish dengan Plymouth Rock. Karakteristik ekonomis, pertumbuhan yang cepat sebagai penghasil daging, konversi pakan rendah, dipanen cepat karena pertumbuhannya yang cepat, dan sebagai penghasil daging dengan serat lunak (Murtidjo, 1987). Menurut Northe (1984) pertambahan berat badan yang ideal 400 gram per minggu untuk jantan dan untuk betina 300 gram per minggu.
Menurut Suprijatna et al. (2005) Ayam broiler adalah ayam yang mempunyai sifat tenang, bentuk tubuh besar, pertumbuhan cepat, bulu merapat ke tubuh, kulit putih dan produksi telur rendah. Dijelaskan lebih lanjut oleh Siregar et al. (1980) bahwa ayam Broiler dalam klasifikasi ekonomi memiliki sifat-sifat antara lain : ukuran badan besar, penuh daging yang berlemak, temperamen tenang, pertumbuhan badan cepat serta efisiensi penggunaan ransum tinggi.
Ayam broiler adalah ayam tipe pedaging yang telah dikembangbiakan secara khusus untuk pemasaran secara dini. Ayam pedaging ini biasanya dijual dengan bobot rata-rata 1,4 kg tergantung pada efisiensinya perusahaan. Menurut Rasyaf (1992) ayam pedaging adalah ayam jantan dan ayam betina muda yang berumur dibawah 6 minggu ketika dijual dengan bobot badan tertentu, mempunyai pertumbuhan yang cepat, serta dada yang lebar dengan timbunan daging yang banyak. Ayam broiler merupakan jenis ayam jantan atau betina yang berumur 6 sampai 8 minggu yang dipelihara secara intensif untuk mendapatkan produksi daging yang optimal. Ayam broiler dipasarkan pada umur 6 sampai 7 minggu untuk memenuhi kebutuhan konsumen akan permintaan daging. Ayam broiler terutama unggas yang pertumbuhannya cepat pada fase hidup awal, setelah itu pertumbuhan menurun dan akhirnya berhenti akibat pertumbuhan jaringan yang membentuk tubuh. Ayam broiler mempunyai kelebihan dalam pertumbuhan dibandingkan dengan jenis ayam piaraan dalam klasifikasinya, karena ayam broiler mempunyai kecepatan yang sangat tinggi dalam pertumbuhannya. Hanya dalam tujuh atau delapan minggu saja, ayam tersebut sudah dapat dikonsumsi dan dipasarkan padahal ayam jenis lainnya masih sangat kecil, bahkan apabila ayam broiler dikelola secara intensif sudah dapat diproduksi hasilnya pada umur enam minggu dengan berat badan mencapai 2 kilogram per ekor (Anonimus, 1994).
Ayam broiler ini baru populer di Indonesia sejak tahun 1980-an dimana pemegang kekuasaan mencanangkan panggalakan konsumsi daging ruminansia yang pada saat itu semakin sulit keberadaannya. Hingga kini ayam broiler telah dikenal masyarakat Indonesia dengan berbagai kelebihannya. Hanya 5-6 minggu sudah bisa dipanen. Dengan waktu pemeliharaan yang relatif singkat dan menguntungkan, maka banyak peternak baru serta peternak musiman yang bermunculan diberbagai wilayah Indonesia.
Banyak strain ayam pedaging yang dipelihara di Indonesia. Strain merupakan sekelompok ayam yang dihasilkan oleh perusahaan pembibitan melalui proses pemuliabiakan untuk tujuan ekonomis tertentu. Contoh strain ayam pedaging antara lain CP 707, Starbro, Hybro (Suprijatna et al., 2005).

2.2 Penyakit dan Pencegahannya
  Penyakit yang sering menyerang ayam broiler yaitu:
a.      Tetelo (Newcastle Disease/ND)
Pertama kali ditemukan oleh Kraneveld di Jakarta (1926). Setahun kemudian, virus tetelo ditemukan juga di Newcastle (Inggris). Sejak saat itu, penyakit ini dikenal sebagai newcastle disease (ND) dan ditemukan di berbagai penjuru dunia. Di India, penyakit ini dikenal dengan nama aanikhet. Penyakit ini merupakan suatu infeksi viral yang menyebabkan gangguan pada saraf pernapasan. Disebabkan virus Paramyxo yang bersifat menggumpalkan sel darah dan biasanya dikualifikasikan menjadi:
1.               Velogenik
2.               Mesogenik
3.               Lentogenik

1.               Tipe Velogenik, yaitu Strain yang sangat berbahaya atau disebut dengan Viscerotropic Velogenic Newcastle Disease (VVND) Tipe Velogenic ini menyebabkan kematian yang luar biasa bahkan hingga 100%.
2.               Tipe Mesogenik, Kematian tipe mesogenik pada anak ayam mencapai 10% tetapi ayam dewasa jarang mengalami kematian. Pada tingkat ini ayam akan menampakkan gejala seperti gangguan pernapasan dan saraf.
3.               Tipe Lentogenik, merupakan stadium yang hampir tidak menyebabkan kematian. Hanya saja dapat menyebabkan produktivitas telur menjadi turun dan kualitas kulit telur menjadi jelek. Gejala yang tampak tidak terlalu nyata hanya terdapat sedikit gangguan pernapasan. Virus ini tidak akan bertahan lebih dari 30 hari pada lokasi pemaparan.
Gejala: ayam sering megap-megap, nafsu makan turun, diare dan senang berkumpul pada tempat yang hangat, ayam sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu, mata ngantuk, jengger dan kepala kebiruan, kornea menjadi keruh, sayap turun, tinja encer kehijauan kadang berdarah. Setelah 1 sampai 2 hari muncul gejala (tortikolis) syaraf, yaitu kaki lumpuh, leher berpuntir dan kepala ayam berputar-putar yang akhirnya mati. Belum ada obat yang dapat menyembuhkan, maka untuk mengurangi kematian, ayam yang masih sehat divaksin ulang atau dengan melakukan vaksinasi melalui tetes mata atau hidung pada anak ayam umur 3-4 hari, umur 3 minggu dan setiap 3 bulan secara teratur, peralatan dan kandang dijaga supaya tetap bersih. Vaksinasi pertama ayam umur 3-4 hari dengan vaksin Bl, diulangi setelah 3 minggu dengan vaksin Lasota dan kemudian setiap 3 bulan. Dan dijaga agar lantai kandang tetap kering.
Pengendalian:
(1) menjaga kebersihan lingkungan dan peralatan yang tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam yang mati segera dibakar/dibuang;
(2) pisahkan ayam yang sakit, mencegah tamu masuk areal peternakan tanpa baju yang mensucihamakan/ steril serta melakukan vaksinasi NCD. Sampai sekarang belum ada obatnya.

b.      Penyakit Cacar Ayam
Dengan memberikan vaksinasi, mencungkil kutil-kutil dengan gunting dan diolesi dengan yodium tintur, atau obat anti infeksi dan cuci hamakan kandang.

c.       Gumboro (Infectious Bursal Disease/IBD)
Penyakit gumboro (Infectious Bursal Disease / IBD) ini ditemukan tahun 1962 oleh Cosgrove di daerah Delmarva Amerika Serikat. Penyakit Gumboro merupakan penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang disebabkan virus golongan Reovirus. Ayam yang terkena penyakit Gumboro akan menunjukkan gejala seperti hilangnya nafsu makan,  gangguan saraf, merejan, suka bergerak tidak teratur, diare, tubuh gemetar, peradangan disekitar dubur, bulu di sekitar anus kotor dan lengket serta diakhiri dengan kematian ayam. Sering menyerang pada umur 36 minggu. Dapat dilakukan adalah pencegahan dengan vaksin Gumboro. Penyakit Gumboro menyerang kekebalan tubuh ayam, terutama bagian fibrikus dan thymus. Kedua bagian ini merupakan pertahanan tubuh ayam. Pada kerusakan yang parah, antibodi ayam tersebut tidak terbentuk. Karena menyerang system kekebalan tubuh, maka penyakit ini sering disebut sebagai AIDSnya ayam. Penyakit Gumboro sendiri sebenarnya memang tidak menyebabkan kematian secara langsung pada ayam, tetapi karena adanya infeksi sekunder yang mengikutinya akan menyebabkan kematian dengan cepat karena virus Avibirnavirus bersifat imunosupresif yang menyebabkan kekebalan tubuhnya tidak bekerja sehingga memudahkan kawanan ayam yang diserang oleh virus dan infeksi sekunder oleh bakteri. penyakit Gumboro merupakan penyakit yang dapat merusak morfologi dan fungsi organ limfoid primer, terutama bursa fabricius. Rusaknya bursa fabricius akan mengakibatkan suboptimalnya pembentukan antibodi terhadap berbagai program vaksinasi, sehingga kepekaan terhadap berbagai agen penyakit menjadi meningkat.. Penyakit ini menyerang bursa fabrisius, khususnya menyerang anak ayam umur 3–6 minggu.
Penularan penyakit Gumboro atau IBD dapat melalui kontak langsung antara ayam yang muda dengan ayam yang sakit atau terinfeksi pada peternakan yang mempunyai ayam berbagai umur dapat mengakibatkan infeksi ini terus menyebar dan sangat sulit dikendalikan. Penularan secara langsung melalui kotoran dan tidak langsung melalui pakan, air minum dan peralatan yang tercemar.
Peralatan, kandang, air minum dan pakaian petugas yang terkontaminasi Gumboro dapat juga memperparah kejadian penyakit tersebut. Penyakit Gumboro tidak menular dengan perantaraan telur dan ayam yanng sudah sembuh tidak menjadi carrier.
Penanggulangan Gumboro ini dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu vaksinasi, dan menjaga kebersihan lingkungan kandang. Tips yang dapat digunakan untuk disinfeksi kandang ayam yang pernah tercemar virus gumboro. Disarankan penggunaan formalin 10 % (1 bagian formalin 38 % dicampur ke dalam 9 bagian air) atau dengan 0,25% larutan soda api (2,5 gram soda api kedalam 1 liter air).
Pengobatan Gumboro dapat dengan pemberian obat-obat untuk gumboro, juga ada obat tradisional dengan penggunaan daun teh.

d.      Penyakit Ngorok (Chronic Respiratory Disease)
Merupakan infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma gallisepticum. Gejala yang nampak adalah ayam sering bersin dan ingus keluar lewat hidung dan ngorok saat bernapas. Pada ayam muda menyebabkan tubuh lemah, sayap terkulai, mengantuk dan diare dengan kotoran berwarna hijau, kuning keputih-keputihan. Penularan melalui pernapasan dan lendir atau melalui perantara seperti alat-alat. Pengobatan dapat dilakukan dengan obat-obatan yang sesuai. Untuk ayam broiler atau ayam pedaging penyakit CRD masih menduduki posisi pertama  (yang sering menyerang ayam pedaging).
Berikut urutan penyakit yang sering menyerang ayam pedaging:
1.    CRD komplek 20.32%
2.    CRD 19.36%
3.    Korisa 17.97%
4.    Colibacillosis 14.12%
5.    Gumboro 8.24 %
6.    Koksi 4.49%
7     ND 3.85%
8.    Leucocytozoonosis 3.21%
9.    Kolera 2.14 %
10.   AI 2.03%
Jadi kesimpulan dari data di atas bahwa penyakit CRD kompleks sangat berbahaya pada ayam dewasa tidak sampai menimbulkan kematian yang terlihat secara signifikan. walaupun kadar kesakitan terhadap ayam tersebut sangat tinggi.

Apabila sudah terlihat gejala dari penyakit ngorok maka segera mungkin untuk ditangani karena dikhawatirkan penyakit E.coli akan masuk kedalam tubuh ayam dan menjangkit secara perlahan dan akan terjadilah penyakit yang sangat berbahaya yang di sebut dengan CRD komplek.
Dan dalam penggunaan obat, sangat di anjurkan sekali bahwa setiap 4 periode pemeliharaan, pemakaian obat-obatan atau antibiotik harus di lakukan penggantian, maksudnya untuk mencegah terjadinya resistensi obat pada ayam.

e.       Berak Kapur (Pullorum)
Disebut penyakit berak kapur karena gejala yang mudah terlihat adalah ayam diare mengeluarkan kotoran berwarna putih dan setelah kering menjadi seperti serbuk kapur. Disebabkan oleh bakteri Salmonella pullorum (Anonimus, 2009).
Kematian dapat terjadi pada hari ke-4 setelah infeksi. Penularan melalui kotoran. Pengobatan belum dapat memberikan hasil yang memuaskan, yang sebaiknya dilakukan adalah pencegahan dengan perbaikan sanitasi kandang. Infeksi bibit penyakit mudah menimbulkan penyakit, jika ayam dalam keadaan lemah atau stres. Kedua hal tersebut banyak disebabkan oleh kondisi lantai kandang yang kotor, serta cuaca yang jelek. Cuaca yang mudah menyebabkan ayam lemah dan stres adalah suhu yang terlalu panas, terlalu dingin atau berubah-ubah secara drastis. Penyakit, terutama yang disebabkan oleh virus sukar untuk disembuhkan. Untuk itu harus dilakukan sanitasi secara rutin dan ventilasi kandang yang baik (Anonimus, 2009). Pullorum merupakan penyakit menular pada ayam yang dikenal dengan nama berak putih atau berak kapur (Bacilary White Diarrhea= BWD). Penyakit ini menimbulkan mortalitas yang sangat tinggi pada anak ayam umur 1-10 hari. Selain ayam, penyakit ini juga menyerang unggas lain seperti kalkun, puyuh, merpati, beberapa burung liar.
Etiologi
Pullorum atau Berak kapur disebabkan oleh bakteri salmonella pullorum dan bakteri gram negatif. Bakteri ini mampu bertahan ditanah selama 1 tahun.
Kejadian penyakit. Di Indonesia penyakit pullorum merupakan penyakit menular yang sering ditemui. Meskipun segala umur ayam bisa terserang pullorum tapi angka kematian tertinggi terjadi pada anak ayam yang baru menetas. Angka morbiditas pada anak ayam sering mencapai lebih dari 40% sedangkan angka mortalitas atau angka kematian dapat mencapai 85%.
Cara penularan
Penularan penyakit Pullorum dapat melalui 2 jalan yaitu:
-Secara vertikal yaitu induk menularkan kepada anaknya melalui telur.
-Secara horizontal terjadi melalui kontak langsung antara unggas secara klinis sakit dengan ayam karier yang telah sembuh, sedangkan penularan tidak langsung dapat melalui kontak dengan peralatan, kandang, litter dan pakaian dari pegawai kandang yang terkontaminasi.
Gejala klinis
·         Nafsu makan menurun
·         Feses (kotoran) kotoran berwarna putih seperti kapur
·         Kotorannya menempel di sekitar dubur berwarna putih
·         Kloaka akan menjadi putih karena feses yang telah kering
·         Jengger berwarna keabuan
·         Mata menutup dan nafsu makan turun
·         Badan anak ayam menjadi lemas
·         Sayap menggantung dan kusam
·         Lumpuh karena arthritis
·         Suka bergerombol

Diagnosis
Isolasi dan identifikasi salmonella pullorum dapat diambil melalui hati, usus maupun kuning telur dapat dilakukan pembiakan kedalam medium. Ayam karier yang sudah sembuh dapat diidentifikasi dengan penggumpalan darah secara cepat (rapid whole blood plate aglutination test).

Pengobatan
Pengobatan Berak Kapur dilakukan dengan menyuntikkan antibiotik seperti furozolidon, coccilin, neo terramycin, tetra atau mycomas di dada ayam. Obat-obatan ini hanya efektif untuk pencegahan kematian anak ayam, tapi tidak dapat menghilangkan infeksi penyakit tersebut. Sebaiknya ayam yang terserang dimusnahkan untuk menghilangkan karier yang bersifat kronis.

Pencegahan
Beberapa tindakan pencegahan yang dapat dilakukan oleh para peternak ayam adalah:
·         Menjaga kebersihan lingkungan hidup ayam.
·         Menjaga kebersihan kandang dengan cara disucihamakan dengan menggunakan larutan kaporit ( takaran 1 : 1.000 ).
·         Pengapuran kandang.
·         Pembuangan kotoran ayam jauh dari lokasi peternakan.
·         Perlindungan dari serangan berbagai macam hewan liar.
·         Pengkarantinaan ayam yang terserang penyakit.
·         Pemusnahan bangkai ayam ( dibakar atau dipendam ).
·         Ayam yang dibeli dari distributor penetasan atau suplier harus memiliki sertifikat bebas salmonella pullorum.
·         Melakukan desinfeksi pada kandang dengan formaldehyde 40%.
·         Ayam yang terkena penyakit sebaiknya dipisahkan dari kelompoknya, sedangkan ayam yang parah dimusnahkan.

f.       Berak darah (Coccidiosis)
Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi, bulu kusam menggigil kedinginan.
Pengendalian:
(1) menjaga kebersihan lingkungaan, menjaga litter tetap kering;
(2) dengan Tetra Chloine Capsule diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco   tablet dilarutkan dalam air minum atau sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayocox.

Kholera atau dikenal juga dengan nama fowl cholera, avian pasteurellosis dan avian hemorrhagic septicaemia merupakan salah satu penyakit infeksius yang banyak menyebabkan masalah di peternakan ayam dan kalkun. Kholera merupakan penyakit bakterial yang umum ditemukan pada peternakan kecil di Asia. Mortalitas dapat mencapai 80% terutama pada musim penghujan. Penyakit ini biasanya menyerang ayam diatas 6 minggu ditandai dengan adanya peningkatan angka kematian yang mendadak dan tidak terduga. Kholera banyak ditemukan pada ayam yang stress akibat sanitasi yang jelek, malnutrisi, kandang terlalu padat, dan adanya penyakit lain. Kalkun lebih rentan terhadap penyakit ini dibandingkan dengan ayam, dan ayam yang tua lebih rentan dibanding yang masih muda. Mengingat tingkat kerentanan dan pengelolaan peternakan, kasus kholera di Indonesia lebih banyak ditemukan pada ayam petelur dibandingkan dengan ayam pedaging. Hal ini terkait dengan masa pemeliharaan ayam pedaging yang cukup pendek, serta kebiasaan peternak yang akan memanen ayamnya lebih cepat apabila ditemukan kasus penyakit untuk mencegah kerugian yang besar. Kholera disebabkan oleh Pasteurella multocida, bakteri gram negatif yang ditemukan oleh Louis Pasteur pada tahun 1880-an. P. multocida sangat rentan terhadap disinfektan biasa, sinar matahari dan panas. Akan tetapi masih bisa bertahan sekitar 1 bulan di kotoran, 3 bulan di karkas dan antara 2-3 bulan di tanah yang lembab. Infeksi dapat terjadi melalui rute mulut dan saluran pernafasan.
Kholera dapat masuk ke peternakan melalui burung, tikus, orang atau peralatan yang pernah kontak dengan penyakit. Penyebaran antar flok dapat disebabkan oleh minuman yang terkontaminasi, kotoran dan discharge hidung.
Pada kasus yang akut, kematian ayam merupakan gejala pertama yang nampak. Demam, turunnya konsumsi pakan, discharge dari mulut, diare dan gejala pernafasan dapat pula terlihat. Gejala lain termasuk sianosis dan pembengkakan jengger. Ayam yang bertahan hidup menjadi kronis atau dapat pula sembuh, sedangkan yang lain bisa mati karena dehidrasi. Pada kasus lebih lanjut, ayam akan menunjukan gejala penurunan berat badan dan pincang karena infeksi pada persendian.
Pada awal kasus angka kematian berkisar antara 5-15% bahkan bisa lebih tinggi apabila terjadi bersamaan denga kasus penyakit lain. Angka kematian akan menurun sampai 2-5% ketika kasusnya menjadi kronis. Ayam yang tertular secara kronis dapat mati, tetap tertular dalam jangka waktu yang panjang atau sembuh. Persentase yang tinggi dari ayam di dalam flok akan menjadi carriers walaupun terlihat normal atau sehat dan merupakan sumber utama penularan. Penyebaran P multocida didalam flok terjadi melalui eksresi dari mulut, hidung, dan konjungtiva unggas yang sakit dan kemudian mengkontaminasi lingkungan. Selain dari ayam yang selamat dari bentuk akut, kasus kronis ditemukan pada ayam yang tertular agen yang tidak terlalu ganas.
Ayam yang tertular secara kronis akan mengeluarkan agen penyakit sepanjang hidupnya. P. multocida dapat ditemukan dalam semua jaringan pada unggas yang mati dengan gejala septicemia, sehingga praktek kanibalisme juga merupakan faktor penyebaran yang sangat penting bagi penyakit ini.

Diagnosa
Diagnosa positif hanya dapat dilakukan apabila dilakukan isolasi serta identifikasi P. Multocida di laboratorium. Diagnosa tentatif bisa dilakukan berdasarkan sejarah, gejala klinis dan patologi anatomi. Walaupun sejarah dan gejala klinis menunjukan kemungkinan ditemukannya kholera, agen penyebab sebaiknya tetap diisolasi sehinga isolat dapat diuji untuk tingkat kepekaannya terhadap antibiotik.

Pencegahan
Pencegahan terbaik adalah melalui penerapan biosecuriti yang baik, kontrol rodensia, dan hygiene peternakan. Selain itu sebagai alat pencegahan, bacterin dapat digunakan pada umur 8 dan 12 minggu serta vaksin pada umur 6 minggu. Semua langkah dasar dari program biosekuriti diperlukan untuk mencegah masuknya penyakit. Orang sebagai sumber penularan yang paling dominan harus dikontrol dengan baik. Hanya orang-orang yang perlu masuk kandang saja yang bisa masuk kedalam kandang dan inipun harus melalu prosedur pencucian tangan dengan sabun dan kalau memang memungkinkan untuk selalu memakai pakaian kandang yang baru dan sepatu boot yang bersih. Program sanitasi yang baik untuk kandang dan peralatan juga sangat penting, terutama ketika persiapan memasukan unggas baru. Hal yang paling penting adalah pembersihan dan disinfeksi peralatan pakan dan minum. Pengawasan yang ketat untuk tiap pemasukan pakan, peralatan kandang dan juga orang sangat diperlukan untuk mencegah masuknya kholera.
Berikut hal yang perlu diperhatikan untuk mencegah kasus kholera:
1.      Ayam yang sakit dan mati di pisahkan dari ayam yang sehat untuk kemudian di musnahkan (disposal yang baik)
2.      Apabila wabah telah terjadi, dilakukan depopulasi, pembersihan dan desinfeksi kandang serta peralatan kandang
3.      Jeda waktu antara ayam tua yang di afkir dan penggantinya
4.      Kontrol rodensia dan hama lainnya
5.      Sumber air minum yang aman dan bersih
6.      Mencegah kontak antara ayam dengan hewan lain dan burung liar
7.      Bacterin dan vaksinasi
8.      Pengobatan Jenis sulfa dan antibiotik (sulfadimethoxine, sulfaquinoxaline, sulfamethazine, sulfaquinoxalene, penicillin, tetracycline, erythromycin, streptomycin).

Penggunaan vaksin atau bacterin
Vaksinasi dapat dilakukan untuk mencegah penyakit ini, akan tetapi perlu diingat bahwa vaksinasi hanya merupakan alat pencegahan bagi peternakan yang berisiko tinggi terkena kholera karena berdekatan dengan peternakan tertular. Vaksinasi kholera sendiri sebenarnya mempunyai risiko, sebagai contoh: vaksin hidup walaupun akan memberikan pertahanan juga akan menghasilkan efek samping yang tidak diharapkan. Bacterin killed, akan memberikan hasil tingkat antibodi yang baik, tetapi hanya spesifik untuk strain yang digunakan.

Pengobatan
Pengobatan untuk kholera sebaiknya dijadikan alternatif terakhir. Pengobatan hanya efektif apabila dilakukan pada awal-awal kasus sebelum terlalu banyak ayam yang tertular dan penyakit menjadi kronis. Walaupun pengobatan dapat mengurangi dampak dari wabah, ayam tertular dapat saja kambuh lagi apabila pengobatan dihentikan. Sehingga pengobatan perlu diperpanjang dengan penambahan obat ke pakan dan minuman. Perlu diingat bahwa penggunaan antibiotik atau sulfa harus berdasarkan hasil tes sensitifitas terhadap agen yang diisolasi dari lokasi kasus. Pengobatan dapat mengurangi angka kematian dan mempertahankan tingkat produksi. Akan tetepi apabila infeksi kronis sudah ditemukan, keuntungan pengobatan sangat sulit untuk dapat dilihat. Sulfaquinoxaline sodium dalam pakan atau air minum biasanya dapat mengontrol angka kematian, begitu pula halnya dengan sulfamethazine dan sulfadimethoxine.
Penggunaan tetracycline dosis tinggi dalam pakan (0.04%), air minum atau injeksi dapat pula bermanfaat untuk pengobatan. Penicillin efektif digunakan untuk infeksi yang resisten terhadap sulfa. Perlu diperhatikan bahwa pengobatan dengan sulfa akan menghasilkan residu di daging dan telur. Antibiotik dapat digunakan dengan menggunakan dengan dosis yang lebih tinggi dan jangka waktu yang cukup panjang untuk menghentikan wabah. Mengingat adanya efek samping residu yang tidak diharapkan, semua pengobatan sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter hewan yang dapat menilai efektifitas dan keamanan dari penggunaan sulfa dan antibiotik ini.

h.      Sindrom Kerdil Ayam  
Masih kerap terdengar bila kita melakukan kunjungan lapangan ke peternak – peternak ayam pedaging (broiler), adanya keluhan mengenai ketidak – seragaman ayam yang dipeliharanya. Menurut penuturan mereka, pada saat doc tiba kondisinya terlihat seragam, tetapi setelah ayam mulai menginjak usia di atas 14 hari, baru terlihat adanya ayam yang terlambat pertumbuhannya.
Pertumbuhan yang tidak seragam pada ayam broiler memang banyak penyebabnya seperti :
·         Doc berasal dari Bibit Muda atau Bibit Tua Sekali
·         Multi strain dalam satu flock / kandang
·         Kurang tempat pakan dan tempat minum
·         Kepadatan ayam di kandang yang terlalu tinggi
·         Penyakit infectious seperti Coccidiosis
·         Sindroma Kekerdilan pada Broiler ( Runting and Stunting Syndrome )
Pada umumnya para peternak berpendapat bahwa beberapa penyebab yang menyebabkan ayamnya tidak seragam seperti karena doc, multistrain dalam satu kandang, kurang peralatan makan dan minum, kepadatan ayam dalam kandang dan penyakit coccidiosis, mereka sudah dapat mengatasinya di lapangan. Tetapi untuk sindroma kekerdilan atau runting and stunting syndrome, para peternak masih meraba-raba penyebabnya, karena kejadian di lapangan kadang ada dan kadang tidak ada  atau hilang dengan sendirinya. 
Sindroma Kekerdilan pada Broiler mempunyai berbagai ragam nama lain seperti :
·         Malabsorption Syndrome
·         Stunting Syndrome
·         Reovirus Malabsorption
·         Pale Bird Syndrome
·         Helicopter Disease
·         Brittle – bone Disease
Sindroma kekerdilan didefinisikan sebagai : Sekelompok ayam (umumnya terjadi 5-40% populasi ) yang mengalami laju pertumbuhan yang kurang pada kisaran usia 4-14 hari.  Dimana setelah pada awalnya pertumbuhan tertekan, kemudian kembali normal, tetapi tetap lebih kecil dari yang normal.
Bila kondisi di atas dialami peternak broiler maka beberapa kerugian sudah nampak di depan mata seperti : tingginya ayam culling; tingginya FCR; rataan berat badan di bawah standar; berat badan yang sangat bervariasi, hal mana akan menjadi masalah bila ada kontrak dengan “slaughter house” / rumah potong ayam; masalah dengan penjualan karena banyaknya ayam yang kecil.
Penyebab
Ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya yaitu :
·         Penyebab berasal dari Pembibitan
·         Penyebab berasal dari Penetasan / Hatchery
·         Penyebab berasal dari Manajemen Produksi
·         Penyebab berasal dari Pakan / Nutrisi
·         Penyebab berasal dari Lingkungan
·         Penyebab berasal Penyakit

1.      Penyebab berasal dari Pembibitan.
Beberapa hal yang berasal dari Pembibitan yang dapat menyebabkan doc yang dihasilkan mengalami sindroma kekerdilan antara lain :
·         Telur tetas kecil (telur tetas yang berasal dari usia induk < 35 minggu dan atau biasanya pada saat puncak produksi)
·         Maternal antibodi Reo-virus yang diturunkan rendah, padahal DOC perlu Maternal Antibodi yang tinggi
·         Akan lebih parah apabila induknya positif Salmonella enteritidis
·         Walaupun demikian kekerdilan  bukan merupakan penyakit yang diturunkan

2.      Penyebab berasal dari Penetasan / Hatchery.
Beberapa hal yang berasal dari Penetasan / Hatchery yang dapat menyebabkan doc yang dihasilkan mengalami sindroma kekerdilan antara lain :
·         Waktu koleksi telur tetas yang terlalu lama
·         Tidak dilakukannya grading telur tetas yang akan dimasukkan ke mesin tetas
·         Bercampurnya telur tetas yang berasal dari usia induk yang sangat jauh berbeda
·         Terlalu lama proses penanganan di ruang seleksi sehingga doc mengalami stress
·         Kurang representatifnya alat angkut doc (chick van) dari Hatchery ke Peternak / kandang pemeliharaan.

3.      Penyebab berasal dari Manajemen Produksi
Manajemen Produksi juga dapat menjadi penyebab terjadinya sindroma kekerdilan seperti :
·         Biosecurity yang buruk
·         Farm terdiri dari beberapa usia (multi ages)
·         Kurang baiknya kualitas doc yang dipelihara
·         Penanganan doc yang kurang baik terutama waktu periode brooding
·         Cara pemberian, kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan tidak benar

4.      Penyebab berasal dari Pakan / Nutrisi
Kandungan yang terdapat pada pakan jika kurang atau berlebihan kadang menimbulkan pertumbuhan yang kurang baik bagi ayam yang dipelihara misalnya
·         Gejala sering seperti ayam yang terserang mycotoxicosis, khususnya Aflatoxicosis
·         Penggunaan Bungkil Kacang Kedelai yang berkualitas rendah
·         Penggunaan Canola Meal dan Protein Hewani lebih daripada 8%
·         Tidak ada atau rendah kandungan Natrium (khusus di Asia)
·         Penggunaan vitamin yang kurang, khususnya pada pakan Breeder.

5.      Penyebab berasal dari Lingkungan.
Menempatkan ayam pada kondisi lingkungan yang kurang kondusif akan juga mengakibatkan ayam terkena sindroma kekerdilan, seperti :
o   Lingkungan kandang yang bersuhu dan kelembaban terlalu tinggi
o   Liingkungan kandang yang terlalu padat populasi ayamnya dan terdiri dari berbagai usia
o   Lingkungan kandang merupakan daerah endemik penyakit yang bersifat imunosupresif.
o   Penyebab berasal dari Penyakit.
·         Ada beberapa penyakit yang dapat memicu timbulnya sindroma kekerdilan, dimana penyakit tersebut umumnya menimbulkan stress dan khususnya bersifat immunosupresif, seperti :
o   Infeksi Reo virus
o   Infeksi Mareks Disease, hal ini dapat terjadi terutama di Asia karena Broiler di Asia tidak divaksinasi
o   Chicken Anemia Virus, vaksinasi tidak dilakukan di beberapa negara
o   ALV – J, diduga ada korelasi positif dengan sindroma kekerdilan
o   Infectious Bursal Disease / Gumboro, beberapa negara hanya memakai strain klasik untuk vaksinasinya
o   Avian Nephritis Virus
o   Reaksi yang berlebihan dari vaksinasi ND dan IB
·         Penyebab utama yang paling berperanan adalah Reo virus dengan spesifikasi sebagai berikut :
o   Virus tidak berselubung / amplop, tahan panas dan dapat hidup
o   pada 600 C selama 8 – 10 jam
o   pada 560 C selama 22 – 24 jam
o   pada 370 C selama 15 – 16 minggu
o   pada 220 C selama 48 – 51 minggu
o   pada 40 C selama lebih dari 3 tahun
o   pada - 630 C selama lebih dari 10 tahun

Penularan
·         Penularan dapat terjadi secara horizontal
·         Melalui jalur respirasi
·         Penularan secara vertikal dengan suatu percobaan dengan cara inokulasi induk usia 15 bulan, ternyata pada doc  hasil tetasannya (17 – 19 hari post inokulasi) mengandung virus reo

Gejala Klinis
Biasanya mulai terlihat pada usia 4 – 8 hari dengan ciri-ciri :
·         Malas bergerak
·         Bulu kusam
·         Coprophagia (faeces / litter eating)
·         Bila di uji gula darahnya “ Hypoglycaemic ”
·         Hanya sebagian populasi yang terkena dengan kategori :
a.       5 – 10 % populasi dengan kategori RINGAN
b.      10 – 30 % populasi dengan kategori BURUK
c.       30 % populasi dengan kategori BENCANA
d.      Biasanya terlihat pada usia 2 minggu :
e.       Bulu sekitar kepala dan leher tetap “ Yellow Heads”
f.       Bulu primer sayap patah / dislokasi “ Helicopter Birds “ / “ Stress Banding”
g.      Tulang kering / betis berwarna pucat
h.      Jika diperiksa kotorannya masih utuh / makanan hanya lewat saja.

i.  Colibacillosis 
Collibacillosis adalah Penyakit infeksius pada unggas yang disebabkan oleh kuman Echerichia coli yang pathogen / ganas baik secara primer maupun secara sekunder. Colibacillosis pertama kali ditemukan pada tahun 1894, setelah itu banyak kejadian-kejadian colibacillosis sehingga memperkaya dan saling melengkapi mengenai penyakit ini baik kejadian di lapangan maupun penelitian di laboratorium.
Kuman pada umumnya menular secara horizontal, dan secara garis besar dibagi menjadi 2 penyebab utama yaitu :
a.        Dari dalam, yaitu yang berasal dari anak ayam / ayam itu sendiri, seperti kejadian Radang pusar atau Omphalitis, Stress ataupun Dehydrasi akibat perjalanan. Dalam saluran pencernaan ayam ada ≤ 106 /gr, dimana 10 – 15 % adalah berpotensi menjadi pathogen / ganas.
b.       Dari luar, yaitu yang berasal dari kontaminan lingkungan sekitar / area kandang dan atau yang berasal dari bahan sapronak yang tidak bersih misalnya kontaminan berasal dari pakan, air dan udara yang tercemar Escherichia coli.

Walaupun penyebabnya sama yaitu infeksi bakteri Escherichia coli, tetapi di lapangan banyak dikenal berbagai macam penyakit yang merupakan berbagai bentuk manifestasi akibat terinfeksi bakteri ini, diantaranya adalah :
1.      Kematian Embrio / Omphalitis
2.      Air Sacculitis / Radang Kantung Hawa
3.      Colisepticemia/ Koliseptisemia
4.      Panophthalmitis
5.      Swolen Head Syndrome
6.      Coli Granuloma / Hjarres Diseases

Pencegahan
·         Usahakan agar anak ayam yang dipelihara berasal dari pembibitan yang bebas dari penyakit pernapasan seperti CRD, IB dan ND.
·         Jika anak ayam sudah terlanjur masuk di kandang, anak ayam yang sudah terinfeksi dengan bakteri Escherichia coli agar diafkir.
·         Jalankan selalu prinsip water treatment / pengobatan air secara efektif dan berkesinambungan, untuk menurunkan populasi bakteri dalam air minum.
·         Perhatikan selalu ventilasi, agar ayam selalu mendapat udara yang segar, bersih dan sehat.
·         Laksanakan biosecurity secara terpadu, agar kondisi farm sesedikit mungkin mengandung kontaminan khususnya bakteri Escherichia coli.
·         Jaga selalu kekeringan litter kandang agar tidak terlalu kering juga tidak terlalu basah, Untuk itu perlu diperhatikan selalu kepadatan populasi agar kondisi kekeringan litter mudah untuk dikendalikan.
·         Spray ruang kandang setiap hari menggunakan campuran air dengan BIODES-100, SEPTOCID atau GLUTAMAS sangat berguna disamping untuk menjaga kelembaban juga mengurangi density bakteri di ruang kandang. 
·         Bila ayam selalu terserang infeksi Escherichia coli yang parah pada usia di atas tiga minggu, tidak ada salahnya lakukan penyuntikan doc pada usia 4 hari pertama dengan antibiotika secara subkutan bisa dengan memakai GENTIPRA atau HIPRASULFA – TS sesuai dengan dosis yang dianjurkan.
·         Alternatif vaksinasi inaktif kombinasi O2K1 dan O78K80, dalam pelaksanaannya masih terjadi pro dan kontra akan efektifitas kegunaannya, karena belum ada hasil yang sangat nyata.
·         Hal yang paling penting untuk dilakukan agar serangan infeksi bakteri Escherichia coli tidak menjadikan ayam peliharaan menjadi menderita adalah dengan cara menciptakan ayam senyaman mungkin tinggal dalam kandangnya, dengan kata lain jangan sampai ayam mengalami stress, karena stress merupakan pencetus utama ayam terserang infeksi bakteri ini.

Pengobatan 
Kuman E. coli kebanyakan sensitif / peka terhadap beberapa antibiotika seperti kelompok aminoglukosida (NEOXIN), polipeptida (MOXACOL), tetrasiklin, Sulfonamida, trimethoprim (COLIMAS) dan Quinolon (CIPROMAS, ENROMAS).
Apabila  setelah diobati dengan berbagai antimikroba tidak terjadi perubahan kearah penyembuhan, maka perlu dilakukan uji sensitivitas.
Pencegahan dengan menggunakan obat suntik Hiprasulfa – TS dan Gentipra, serta spray kandang dengan desinfektan Biodes-100, Septocid dan Glutamas, maupun pengobatan dengan menggunakan Neoxin, Moxacol, Colimas, Cipromas maupun Enromas, agar diperhatikan benar cara dan dosis pemakaiannya dan dilaksanakan sesuai dengan anjuran dari pembuatnya, agar mendapatkan efek pengobatan yang maksimal.

j.   Pilek Pada Ayam
Penyakit pilek yang menyerang pada ayam masuk ke dalam kategori penyakit yang berbahaya dikarenakan penyakit ini dapat menular dengan sangat cepat dan dapat menyerang ke semua jenis ayam. Ayam yang menderita penyakit pilek pergerakannya berubah menjadi pasif. Gejala lain yang muncul pada ayam yang terserang pilek adalah nafsu makannya menghilang, kepalanya bergoyang – goyang dan sering bersin – bersin. Jika kondisi ini dibiarkan berlarut – larut, kondisi ayam akan semakin parah. Dari lubang hidung dan kedua matanya akan keluar semacam cairan yang pada akhirnya nanti dapat membuat hidung ayam tersumbat sehingga membuat ayam menjadi susah bernafas. Penyakit ayam ini disebabkan oleh bakteri haemophilus galloinarum dan dapat menyebar melalui makanan, minuman dan udara. Untuk mengatasi penyebaran penyakit pilek ini, peternak ayam harus segera memindahkan ayam yang sedang sakit ke kandang khusus untuk dikarantina.

Pengobatan
Beberapa obat yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit pilek pada ayam adalah neofet, kapsul anti snot dan bubuk coryuit. Dosis pemakaian obat dan cara pemberian obat harus disesuaikan dengan petunjuk yang ada dikemasan obat. Selain itu, penyakit ini juga dapat disembuhkan dengan cara menyuntikkan cairan streptomycim berdosis 0,2 cc / suntikkan / hari. Proses penyuntikkan berlangsung selama 5 hari dengan bagian tubuh ayam yang disuntik adalah leher bagian belakang. Beberapa jenis obat yang biasa dikonsumsi oleh manusia ditengarai juga dapat digunakan untuk mengobati ayam yang sedang terserang penyakit pilek. Mereka adalah refagan dan bodrex. Caranya adalah : satu tablet obat dilarutkan ke dalam 1 sendok air teh dan kemudian diminumkan kepada ayam.

Pencegahan
Pemberian antibiotik (streptomycin dan sulfanilamida) secara berkala dapat membantu mencegah ayam tidak mudah terserang pilek. Vaksinasi (corryta naccin dan vaksin snot) juga harus dilakukan ketika ayam masih berumur 2 minggu, 1 bulan, 3 bulan dan menjelang usia dewasa.
h.      Tungau (kutuan)
Gejala: ayam gelisah, sering mematuk-matuk dan mengibas-ngibaskan bulu karena gatal, nafsu makan turun, pucat dan kurus.
Pengendalian:
(1)                sanitasi lingkungan kandang ayam yang baik; pisahkan ayam yang sakit dengan yang sehat;
(2)                dengan menggunakan karbonat sevin dengan konsentrasi 0,15% yang encerkan dengan air kemudian semprotkan dengan menggunakan karbonat sevin dengan konsentrasi 0,15% yang encerkan dengan air kemudian semprotkan ketubuh pasien. Dengan fumigasi atau pengasepan menggunakan insektisida yang mudah menguap seperti Nocotine sulfat atau Black leaf 40.



2.3 Tingkat Konsumsi di Masyarakat
Tingkat konsumsi daging ayam broiler meningkat apabila dipengaruhi faktor-faktor sebagai berikut:
1.      Ketersediaan daging ruminansia yang rendah sehingga kebutuhan daging dipenuhi oleh daging unggas (ayam).
2.      Harga daging unggas lebih murah dibandingkan dengan daging ruminansia.
3.      Perayaan hari-hari besar misalnya hari megang, hari raya Idul Fitri, dan hari raya Idul Adha.

Berikut data yang kami peroleh dari hasil observasi di Pasar Penayong Banda Aceh Rabu, 26 Februari 2014. Data berikut merupakan data kuantitatif dan disajikan dalam bentuk tabel.

Tabel 1. Perbandingan harga daging ruminansia dengan daging ayam broiler
Jenis Daging
Harga /kg
Ayam Broiler
Rp 25.000
Kambing
Rp 65.000
Sapi
Rp 98.000

Tabel 2. Pengaruh perayaan hari besar terhadap tingkat konsumsi daging ayam broiler di kota Banda Aceh
Jenis Hari
Ayam yang Dijual /hari
Ayam yang Terjual /hari
Hari Biasa
100 ekor
98 ekor
Idul Adha
150 ekor
145 ekor
Idul Fitri
245 ekor
245 ekor

Keterangan pada Tabel 1.
“Jenis Daging : Ayam Broiler, Kambing, Sapi” merupakan data kategori. Sedangkan “Harga/kg” merupakan data rasio.

Keterangan pada Tabel 2.
“Jenis Hari: Hari Biasa, Idul Adha, Idul Fitri” merupakan data kategori. Sedangkan “Ayam yang Dijual/hari” dan “Ayam yang Terjual/hari” merupakan data rasio.

 





















 
































Dapat diketahui bahwa perayaan hari-hari besar sangat berpengaruh terhadap tingkat konsumsi ayam broiler. Tingkat konsumsi tertinggi yaitu pada hari perayaan Idul Fitri, yaitu jumlah ayam yang terjual 2.5 x lipat lebih banyak dari pada hari biasa (50%).  
            Ada pula faktor penyebab tingkat konsumsi daging ayam broiler menurun, yaitu : wabah penyakit unggas seperti virus flu burung (Avian Influenza), Pasteurellosis, Coccidiosis, serta penyakit-penyakit unggas lainnya yang menyebabkan konsumen enggan mengonsumsi daging unggas. Hal ini dapat diatasi dengan pemeliharaan kandang yang baik, pemberian vaksin, serta pemilihan bibit-bibit unggul dan sehat.











BAB III
PENUTUP



3.1  Kesimpulan

Dari data yang kami peroleh, dapat disimpulkan bahwa banyaknya ayam broiler yang  100 ekor/ hari dengan kisaran harga sekitar Rp. 25.000/ ekor. Peningkatan penjualan daging ayam potong biasanya terjadi ketika hari-hari besar keagamaan, seperti hari raya Idul Fitri maupun Hari Raya Idul Adha. Pada umumnya penjualan daging ayam broiler setiap harinya relatif tetap karena pasokan ayam dari peternak sebanding dengan permintaan pasar sehingga harga ayam relatif tetap tanpa kenaikan yang berarti. Jadi, tingkat konsumsi daging ayam potong di Kota Banda Aceh cenderung tetap dan meningkat pada hari-hari besar keagamaan.

3.2  Saran

Saran dari kami yaitu agar penyakit-penyakit pada unggas dapat dicegah dengan baik demi kesehatan dan kepuasan konsumen serta keuntungan produsen ayam broiler. Semoga makalah ini bermanfaat dan menambah wawasan kita. 



















DAFTAR PUSTAKA


Cahyono dan Bambang, 1995. Cara Meningkatkan Budidaya Ayam Ras Pedaging (Broiler). Penerbit Pustaka Nusatama: Yogyakarta.

Sugandi, 1978. Tatalaksana Pemeliharaan Ayam Pedaging Strain MB 202-p Periode Starter–Finisher. PT. Janu Putro Sentosa: Bogor.

R, 2008. Panduan Mengelola Peternakan Ayam Broiler Komersial. Agromedia Pustaka: Jakarta
































LAMPIRAN