MAKALAH MIKROBIOLOGI I
GENETIKA MIKROORGANISME
O
L
E
H
ASTRI WULANDARI
1302101010133
FAKULTAS
KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS
SYIAH KUALA
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Genetika adalah
ilmu yang mempelajari tentang pewarisan sifat dan keragaman ciri suatu
organisme, baik organisme uniseluler maupun maupun multiseluler.
Pengetahuan ini
juga telah menuntun kepada pemahaman bahwa cacat molekuler pada informasi yang
disandikan di dalam DNA merupakan penyebab banyak penyakit genetis.
Telaah mengenai
genetika mikroba telah memberikan banyak sumbangan terhadap apa yang tekah kita
ketahui mengenai genetika semua organisme. Sel-sel prokariotik, terutama
bakteri, sangat dikenal kegunaannya dalam hal ini. Karena prokariota adalah
organisme berkromosom tunggal, perubahan-perubahan dalam bahan genetisnya
mengakibatkan perubahan ciri yang diekspresikan dengan segera dan mudah
diamati.
1.2 Rumusan Masalah
a.
Apa saja bahan
genetik dari mikroorganisme?
b.
Bagaimana sifat
genetis mikroorganisme?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan
Makalah ini bertujuan untuk mengetahui bahan genetic mikroorganisme
serta sifat genetis dari mikroorganisme itu sendiri.
Sedangkan manfaatnya ialah untuk mengetahui sifat
genetik mikroorganisme sehingga mudah menyediakan kondisi terkendali yang
konstan terhadap mikroorganisme, laju pertumbuhan yang cepat, dan besarnya
populasi yang berkembang dalam biakan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Bahan
Genetik Mikroorganisme
Bahan
genetik makhluk hidup terdiri dari DNA (deoxyribonucleic
acid) dan/atau RNA (ribonucleic acid).
Kromosom sel dibentuk dari DNA. Di dalam struktur DNA tersandikan informasi
bagi sintesis semua protein sel. Segmen-segmen yang mempunyai ciri tersendiri
pada DNA atau kromosom, disebut gen, menyandikan masing-masing protein.
Informasi ini diteruskan dari sel ke sel melalui proses replikasi DNA.
RNA
menyerupai DNA tetapi tidak sama. Fungsinya ialah mengolah informasi yang
disandikan di dalam DNA bagi sintesis protein melalui transkripsi dan
translasi.
2.2 Struktur
DNA
Berbentuk molekul panjang seperti tali. Biasanya terdiri dari dua utas yang saling membelit membentuk heliks ganda. Terdapat
pada inti sel, namun pada mikroorganisme seperti bakteri, DNA terdapat di dalam
kromosom dan plasmid. Jumlahnya dalam setiap sel adalah tetap.
Setiap
utas heliks DNA terdiri dari nukleotida-nukleotida yang tergabung membentuk
rantai polinukleotida. Setiap nukleotida terdiri dari tiga bagian:
a.
Gula pentosa
(deoksiribosa)
b.
Satu molekul
fosfat
c.
Basa nitrogen
(purin dan pirimidin)
Pada DNA dijumpai dua macam purin yaitu adenine dan
guanine, dan dua macam pirimidin yaitu sitosin dan timin. Karena ada empat
jenis basa, maka pada DNA dijumpai empat jenis nukleotida.
Keempat jenis nukleotida ini dihubungkan bersama-sama
menjadi utusan polinukleotida DNA oleh ikatan-ikatan fosfodiester, yaitu setiap
gugus fosfat menghubungkan atom karbon nomor 3 pada deoksiribosa sebuah
nukleotida dengan atom karbon nomor 5 pada deoksiribosa nukleotida berikutnya. Namun
gugus fosfat terletak di luar rantai.
2.3
Struktur RNA
Biasanya berutasan tunggal (single
helix). Komponen gula yang membentuk RNA adalah ribose. Basa nitrogen
pirimidin yang dijumpai pada nukleotida yang membentuk RNA ialah urasil dan
bukan timin. Jumlahnya dalam sel berubah (tidak tetap).
Terdapat
tiga jenis RNA yaitu:
a.
RNA d/m : berperan dalam mentranskripsi kode-kode
genetik dalam DNA
menjadi kodon.
b.
RNA t : mentranslasi kode genetik kodon menjadi
anti kodon, juga
berfungsi mengangkut asam amino ke ribosom.
c.
RNA r : mengatur sintesa protein.
2.4
Biosintesis DNA
Langkah
awal biosintesis DNA ialah biosintesis nukleotida. Pada bakteri tertentu,
nukleotida harus disuplai ke dalam medium dalam bentuk jadi. Tetapi ada pula
bakteri-bakteri yang dapat mensintesis nukleotida dari nutrient yang sangat
sederhana seperti glukosa, amonium sulfat, dan mineral. Proses ini sangatlah
rumit, beberapa di antaranya membutuhkan energi dalam bentuk ATP.
Langkah
berikutnya ialah replikasi DNA. Replikasi dimulai pada suatu situs tertentu
yang sudah pasti pada kromosom bakteri yang disebut titik pangkal. Kedua utas
DNA memisah pada situs ini membentuk struktur berbentuk Y, titik
persimpangannya disebut titik tumbuh. Replikasi bergerak berurutan dari titik tumbuh
(baik satu arah atau dua arah). Titik asal dan titik tumbuh terikat pada
membran sel dan di situlah kedua utasan tersebut diduplikasi. Masing-masing
utasan mempunyai urutan basa yang komplementer terhadap urutan basa pada
utasan-utasan DNA awal.
Enzim
DNA polymerase menambahkan nukleotida pada ujung hidroksil-3’ utasan-utasan DNA
yang sedang bereplikasi, jadi mensintesis utasan-utasan DNA dengan arah 5’ ke
3’. Sejauh ini belum ditemukan polymerase yang mereplikasi dengan arah 3’ ke
5’.
Sintesis
DNA bersifat tidak sinambung. Utasan-utasannya direplikasi dalam bentuk
segmen-segmen kecil yang disebut fragmen Okazaki, dengan arah 5’ ke 3’. Fragmen-fragmen
ini kemudian digabungkan menjadi satu oleh enzim DNA ligase.
Selain
mekanisme replikasi DNA yang baru saja diuraikan, inisiasi replikasi DNA
membutuhkan suatu pancingan/pemula yaitu sepotong pendek RNA yang disintesis
oleh RNA polymerase dan komplementer terhadap DNA. Dengan adanya pemula ini,
DNA polymerase lalu mencerna RNA tersebut kemudian menggantikannya dengan DNA.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Bahan genetik mikroorganisme adalah DNA dan RNA. Sandi genetis dibawa oleh
DNA dan dihantarkan dari generasi ke generasi melalui replikasi DNA. Penggunaan
sandi genetis di dalam produksi protein melibatkan dua tahap yaitu transkripsi
dan translasi.
Transkripsi
ialah pemindahan informasi dari DNA ke RNA. Sedangkan translasi adalah
penerjemahan informasi ini dari RNA menjadi protein.
3.2 Saran
Saran saya agar informasi mengenai gentika
mikroorganisme ini diperdalam lagi sehingga dapat kita terapkan dalam kegiatan
yang bermanfaat seperti klasifikasi taksonomi bakteri, dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
Patriadi Nuhriawangsa, Adi Magna, dkk. 2005. Mikrobiologi Peternakan.
Fakultas Peternakan Universitas Sebelas Maret:
Surakarta.
Pelczar dan Chan. 1998. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Penterjemah: UI Press:
Jakarta.
Schlegel, H. S., 1994. Allgemeine
Mikrobiologie. Penterjemah: R. M. T. Baskoro
dan
J. R. Wattimena. UGM Press, Yogyakarta.
Sumarsih, Sri.2003.Mikrobiologi
Dasar.Fakultas Pertanian Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran”:Yogyakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar