BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Permintaan produk hasil peternakan khususnya daging
ayam terus meningkat. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya daya beli
masyarakat dan masih tingginya tingkat pertumbuhan penduduk sehingga
menyebabkan konsumsi per kapita maupun konsumsi secara total daging ayam terus
melonjak naik.
Perkembangan industri perunggasan di Indonesia kini
tampak sudah maju demikian pesat, namun senantiasa dihadapkan pada berbagai
kendala yang juga ikut berkembang dan semakin kompleks. Usaha ternak ayam
pedaging (broiler), untuk mencapai sukses tidak saja diperlukan modal
besar dan keterampilan khusus yang memadai, tetapi juga pengelolaan maupun
pemasaran produksi yang handal. (Mubyarto,1992)Jurnal
Kedokteran Hewan Vol.9. No.2
Desember 2004 hal 193-205.
Ayam broiler memiliki laju pertumbuhan yang lebih cepat
dibandingkan dengan ayam petelur (layer) oleh karenanya pada saat ayam tumbuh, laju pertumbuhan juga meningkat sehingga kebutuhan energi dan
proteinnya juga meningkat.
Terbatasnya produksi ayam broiler oleh perusahaan pembibitan yang ada di Indonesia saat
ini dan harga pasaran yang relatif lebih murah, maka ayam broiler induk bibit muda (ayam potong BM) tetap merupakan
sumber pasokan untuk memenuhi kebutuhan peternak ayam broiler.
Degan melihat dan memperhatikan beberapa faktor yang
mempengaruhi
tingkat konsumsi daging ayam broiler di masyarakat, maka penulis sangat tertarik untuk mencari tahu
seberapa besar pengaruh yang ditimbulkan dari faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi daging ayam broiler di Kota Banda Aceh . Namun dalam hal ini penulis juga mencoba untuk mengungkap seberapa besar pangaruh hari-hari besar dengan jumlah
permintaan ayam broiler di pasaran serta penyakit-penyakit yang biasa menyerang
ayam broiler.
1.2 Rumusan Masalah
a.
Bagaimana tingkat konsumsi daging ayam broiler di Kota Banda Aceh?
b.
Apa saja penyakit yang menyerang ayam broiler dan bagaimana cara
pencegahannya?
c.
Apa saja faktor yang menyebabkan
penurunan atau peningkatan konsumsi daging ayam broiler?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Ada
beberapa tujuan dari penelitian ini, diantaranya :
·
Mengetahui tingkat
konsumsi daging ayam broiler
di Kota Banda Aceh.
·
Mengetahui apa
saja penyakit yang menyerang ayam broiler dan mengetahui cara pencegahannya.
·
Mengetahui penyebab
penurunan atau peningkatan
konsumsi daging ayam broiler.
Adapun
manfaat penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat konsumsi daging ayam broiler di kota Banda Aceh serta faktor-faktor yag mempengaruhinya. Selain itu
mengetahui apa saja penyakit yang menyerang ayam broiler dan mengetahui cara
pencegahannya agar produksi ayam broiler terus meningkat sehingga kebutuhan
pasar dapat terpenuhi dengan baik.
1.4 Metode Pengumpulan Data
Pada penelitian ini kami
menggunakan teknik observasi yaitu dengan mewawancarai secara langsung beberapa
penjual ayam potong di Pasar Penayong Banda Aceh sebagai sampel penelitian serta
peternak ayam potong.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
a.
Variabel Penelitian
Variabel bebas yaitu faktor
yang mempengaruhi tingkat konsumsi daging ayam broiler.
b.
Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah
pedagang ayam broiler.
c.
Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Pasar
Penayong Banda Aceh.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Ayam Broiler
Ayam
broiler merupakan hasil teknologi yaitu persilangan antara ayam Cornish dengan
Plymouth Rock. Karakteristik ekonomis, pertumbuhan yang cepat sebagai penghasil
daging, konversi pakan rendah, dipanen cepat karena pertumbuhannya yang cepat,
dan sebagai penghasil daging dengan serat lunak (Murtidjo, 1987). Menurut
Northe (1984) pertambahan berat badan yang ideal 400 gram per minggu untuk
jantan dan untuk betina 300 gram per minggu.
Menurut Suprijatna et al. (2005) Ayam broiler
adalah ayam yang mempunyai sifat tenang, bentuk tubuh besar, pertumbuhan cepat,
bulu merapat ke tubuh, kulit putih dan produksi telur rendah. Dijelaskan lebih
lanjut oleh Siregar et al. (1980) bahwa ayam Broiler dalam klasifikasi
ekonomi memiliki sifat-sifat antara lain : ukuran badan besar, penuh daging
yang berlemak, temperamen tenang, pertumbuhan badan cepat serta efisiensi
penggunaan ransum tinggi.
Ayam broiler adalah ayam tipe pedaging yang telah
dikembangbiakan secara khusus untuk pemasaran secara dini. Ayam pedaging ini
biasanya dijual dengan bobot rata-rata 1,4 kg tergantung pada efisiensinya
perusahaan. Menurut Rasyaf (1992) ayam pedaging adalah ayam jantan dan ayam
betina muda yang berumur dibawah 6 minggu ketika dijual dengan bobot badan
tertentu, mempunyai pertumbuhan yang cepat, serta dada yang lebar dengan
timbunan daging yang banyak. Ayam broiler merupakan jenis ayam jantan atau
betina yang berumur 6 sampai 8 minggu yang dipelihara secara intensif untuk
mendapatkan produksi daging yang optimal. Ayam broiler dipasarkan pada umur 6
sampai 7 minggu untuk memenuhi kebutuhan konsumen akan permintaan daging. Ayam
broiler terutama unggas yang pertumbuhannya cepat pada fase hidup awal, setelah
itu pertumbuhan menurun dan akhirnya berhenti akibat pertumbuhan jaringan yang
membentuk tubuh. Ayam broiler mempunyai kelebihan dalam pertumbuhan
dibandingkan dengan jenis ayam piaraan dalam klasifikasinya, karena ayam
broiler mempunyai kecepatan yang sangat tinggi dalam pertumbuhannya. Hanya dalam
tujuh atau delapan minggu saja, ayam tersebut sudah dapat dikonsumsi dan
dipasarkan padahal ayam jenis lainnya masih sangat kecil, bahkan apabila ayam
broiler dikelola secara intensif sudah dapat diproduksi hasilnya pada umur enam
minggu dengan berat badan mencapai 2 kilogram per ekor (Anonimus, 1994).
Ayam broiler ini baru populer di Indonesia sejak tahun
1980-an dimana pemegang kekuasaan mencanangkan panggalakan konsumsi daging
ruminansia yang pada saat itu semakin sulit keberadaannya. Hingga kini ayam
broiler telah dikenal masyarakat Indonesia dengan berbagai kelebihannya. Hanya
5-6 minggu sudah bisa dipanen. Dengan waktu pemeliharaan yang relatif singkat
dan menguntungkan, maka banyak peternak baru serta peternak musiman yang
bermunculan diberbagai wilayah Indonesia.
Banyak strain ayam pedaging yang dipelihara di
Indonesia. Strain merupakan sekelompok ayam yang dihasilkan oleh perusahaan
pembibitan melalui proses pemuliabiakan untuk tujuan ekonomis tertentu. Contoh
strain ayam pedaging antara lain CP 707, Starbro, Hybro (Suprijatna et al.,
2005).
2.2 Penyakit dan Pencegahannya
Penyakit yang sering menyerang ayam broiler yaitu:
a. Tetelo (Newcastle Disease/ND)
Pertama kali ditemukan oleh Kraneveld di Jakarta
(1926). Setahun kemudian, virus tetelo ditemukan juga di Newcastle (Inggris).
Sejak saat itu, penyakit ini dikenal sebagai newcastle disease (ND) dan
ditemukan di berbagai penjuru dunia. Di India, penyakit ini dikenal dengan nama
aanikhet. Penyakit ini merupakan suatu infeksi viral yang menyebabkan gangguan
pada saraf pernapasan. Disebabkan virus Paramyxo yang bersifat menggumpalkan
sel darah dan biasanya dikualifikasikan menjadi:
1.
Velogenik
2.
Mesogenik
3.
Lentogenik
1.
Tipe Velogenik, yaitu Strain yang sangat berbahaya atau disebut dengan
Viscerotropic Velogenic Newcastle Disease (VVND) Tipe Velogenic ini menyebabkan
kematian yang luar biasa bahkan hingga 100%.
2.
Tipe
Mesogenik, Kematian
tipe mesogenik pada anak ayam mencapai 10% tetapi ayam dewasa jarang mengalami
kematian. Pada tingkat ini ayam akan menampakkan gejala seperti gangguan
pernapasan dan saraf.
3.
Tipe
Lentogenik, merupakan
stadium yang hampir tidak menyebabkan kematian. Hanya saja dapat menyebabkan
produktivitas telur menjadi turun dan kualitas kulit telur menjadi jelek.
Gejala yang tampak tidak terlalu nyata hanya terdapat sedikit gangguan
pernapasan. Virus ini tidak akan bertahan lebih dari 30 hari pada lokasi
pemaparan.
Gejala: ayam sering megap-megap, nafsu makan
turun, diare dan senang berkumpul pada tempat yang hangat, ayam sulit bernafas,
batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu, mata ngantuk, jengger dan
kepala kebiruan, kornea menjadi keruh, sayap turun, tinja encer kehijauan
kadang berdarah. Setelah 1 sampai 2 hari muncul gejala (tortikolis) syaraf,
yaitu kaki lumpuh, leher berpuntir dan kepala ayam berputar-putar yang akhirnya
mati. Belum ada obat yang dapat menyembuhkan, maka untuk mengurangi kematian,
ayam yang masih sehat divaksin ulang atau dengan melakukan vaksinasi melalui
tetes mata atau hidung pada anak ayam umur 3-4 hari, umur 3 minggu dan setiap 3
bulan secara teratur, peralatan dan kandang dijaga supaya tetap bersih.
Vaksinasi pertama ayam umur 3-4 hari dengan vaksin Bl, diulangi setelah 3
minggu dengan vaksin Lasota dan kemudian setiap 3 bulan. Dan dijaga agar lantai
kandang tetap kering.
Pengendalian:
(1) menjaga kebersihan lingkungan dan peralatan
yang tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam yang mati segera
dibakar/dibuang;
(2) pisahkan ayam yang sakit, mencegah tamu
masuk areal peternakan tanpa baju yang mensucihamakan/ steril serta melakukan
vaksinasi NCD. Sampai sekarang belum ada obatnya.
b. Penyakit Cacar Ayam
Dengan memberikan vaksinasi, mencungkil
kutil-kutil dengan gunting dan diolesi dengan yodium tintur, atau obat anti
infeksi dan cuci hamakan kandang.
c. Gumboro (Infectious Bursal
Disease/IBD)
Penyakit gumboro (Infectious
Bursal Disease / IBD) ini ditemukan tahun 1962 oleh Cosgrove di daerah Delmarva
Amerika Serikat. Penyakit Gumboro merupakan
penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang disebabkan virus golongan
Reovirus. Ayam yang terkena penyakit Gumboro akan
menunjukkan gejala seperti hilangnya nafsu makan, gangguan saraf, merejan, suka bergerak tidak
teratur, diare, tubuh gemetar, peradangan
disekitar dubur, bulu di sekitar anus kotor dan
lengket serta diakhiri dengan kematian ayam. Sering menyerang pada umur
36 minggu. Dapat dilakukan adalah pencegahan dengan vaksin Gumboro. Penyakit Gumboro menyerang kekebalan tubuh ayam, terutama
bagian fibrikus dan thymus. Kedua bagian ini merupakan pertahanan tubuh ayam.
Pada kerusakan yang parah, antibodi ayam tersebut tidak terbentuk. Karena
menyerang system kekebalan tubuh, maka penyakit ini sering disebut sebagai
AIDSnya ayam. Penyakit Gumboro sendiri sebenarnya memang tidak menyebabkan
kematian secara langsung pada ayam, tetapi karena adanya infeksi sekunder yang
mengikutinya akan menyebabkan kematian dengan cepat karena virus Avibirnavirus
bersifat imunosupresif yang menyebabkan kekebalan tubuhnya tidak bekerja
sehingga memudahkan kawanan ayam yang diserang oleh virus dan infeksi sekunder oleh
bakteri. penyakit Gumboro merupakan penyakit yang dapat merusak morfologi dan
fungsi organ limfoid primer, terutama bursa fabricius. Rusaknya bursa fabricius
akan mengakibatkan suboptimalnya pembentukan antibodi terhadap berbagai program
vaksinasi, sehingga kepekaan terhadap berbagai agen penyakit menjadi
meningkat.. Penyakit ini menyerang bursa fabrisius, khususnya menyerang anak
ayam umur 3–6 minggu.
Penularan penyakit Gumboro
atau IBD dapat melalui kontak langsung antara ayam yang muda dengan ayam yang
sakit atau terinfeksi pada peternakan yang mempunyai ayam berbagai umur dapat
mengakibatkan infeksi ini terus menyebar dan sangat sulit dikendalikan.
Penularan secara langsung melalui kotoran dan tidak langsung melalui pakan, air
minum dan peralatan yang tercemar.
Peralatan, kandang, air minum
dan pakaian petugas yang terkontaminasi Gumboro dapat juga memperparah kejadian
penyakit tersebut. Penyakit Gumboro tidak menular dengan perantaraan telur dan
ayam yanng sudah sembuh tidak menjadi carrier.
Penanggulangan Gumboro ini
dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu vaksinasi, dan menjaga kebersihan
lingkungan kandang. Tips
yang dapat digunakan untuk disinfeksi kandang ayam yang pernah tercemar virus
gumboro. Disarankan penggunaan formalin 10 % (1 bagian formalin 38 % dicampur
ke dalam 9 bagian air) atau dengan 0,25% larutan soda api (2,5 gram soda api
kedalam 1 liter air).
Pengobatan Gumboro dapat
dengan pemberian obat-obat untuk gumboro, juga ada obat tradisional dengan
penggunaan daun teh.
d. Penyakit Ngorok (Chronic
Respiratory Disease)
Merupakan infeksi saluran pernapasan yang
disebabkan oleh bakteri Mycoplasma gallisepticum. Gejala yang nampak adalah
ayam sering bersin dan ingus keluar lewat hidung dan ngorok saat bernapas. Pada
ayam muda menyebabkan tubuh lemah, sayap terkulai, mengantuk dan diare dengan
kotoran berwarna hijau, kuning keputih-keputihan. Penularan melalui pernapasan
dan lendir atau melalui perantara seperti alat-alat. Pengobatan dapat dilakukan
dengan obat-obatan yang sesuai. Untuk ayam broiler atau ayam pedaging penyakit
CRD masih menduduki posisi pertama (yang sering menyerang ayam pedaging).
Berikut urutan penyakit yang sering menyerang
ayam pedaging:
1. CRD komplek 20.32%
2. CRD 19.36%
4. Colibacillosis 14.12%
5. Gumboro 8.24 %
6. Koksi 4.49%
7 ND 3.85%
8. Leucocytozoonosis 3.21%
9. Kolera 2.14 %
10. AI 2.03%
Jadi kesimpulan dari data di atas bahwa penyakit
CRD kompleks sangat berbahaya pada ayam dewasa tidak sampai menimbulkan
kematian yang terlihat secara signifikan. walaupun kadar kesakitan terhadap
ayam tersebut sangat tinggi.
Apabila sudah terlihat gejala dari penyakit ngorok maka segera mungkin untuk ditangani karena dikhawatirkan penyakit E.coli akan masuk kedalam tubuh ayam dan menjangkit secara perlahan dan akan terjadilah penyakit yang sangat berbahaya yang di sebut dengan CRD komplek.
Apabila sudah terlihat gejala dari penyakit ngorok maka segera mungkin untuk ditangani karena dikhawatirkan penyakit E.coli akan masuk kedalam tubuh ayam dan menjangkit secara perlahan dan akan terjadilah penyakit yang sangat berbahaya yang di sebut dengan CRD komplek.
Dan dalam penggunaan obat, sangat di anjurkan sekali
bahwa setiap 4 periode pemeliharaan, pemakaian obat-obatan atau antibiotik
harus di lakukan penggantian, maksudnya untuk mencegah terjadinya resistensi
obat pada ayam.
e. Berak Kapur (Pullorum)
Disebut penyakit berak kapur karena gejala yang
mudah terlihat adalah ayam diare mengeluarkan kotoran berwarna putih dan
setelah kering menjadi seperti serbuk kapur. Disebabkan oleh bakteri Salmonella
pullorum (Anonimus, 2009).
Kematian dapat terjadi pada hari ke-4 setelah
infeksi. Penularan melalui kotoran. Pengobatan belum dapat memberikan hasil
yang memuaskan, yang sebaiknya dilakukan adalah pencegahan dengan perbaikan
sanitasi kandang. Infeksi bibit penyakit mudah menimbulkan penyakit, jika ayam
dalam keadaan lemah atau stres. Kedua hal tersebut banyak disebabkan oleh
kondisi lantai kandang yang kotor, serta cuaca yang jelek. Cuaca yang mudah
menyebabkan ayam lemah dan stres adalah suhu yang terlalu panas, terlalu dingin
atau berubah-ubah secara drastis. Penyakit, terutama yang disebabkan oleh virus
sukar untuk disembuhkan. Untuk itu harus dilakukan sanitasi secara rutin dan
ventilasi kandang yang baik (Anonimus, 2009). Pullorum merupakan penyakit
menular pada ayam yang dikenal dengan nama berak putih atau berak kapur
(Bacilary White Diarrhea= BWD). Penyakit ini menimbulkan mortalitas yang sangat
tinggi pada anak ayam umur 1-10 hari. Selain ayam, penyakit ini juga menyerang
unggas lain seperti kalkun, puyuh, merpati, beberapa burung liar.
Etiologi
Pullorum atau Berak kapur disebabkan oleh
bakteri salmonella pullorum dan bakteri gram negatif. Bakteri ini mampu
bertahan ditanah selama 1 tahun.
Kejadian penyakit. Di Indonesia penyakit pullorum merupakan penyakit menular yang sering ditemui. Meskipun segala umur ayam bisa terserang pullorum tapi angka kematian tertinggi terjadi pada anak ayam yang baru menetas. Angka morbiditas pada anak ayam sering mencapai lebih dari 40% sedangkan angka mortalitas atau angka kematian dapat mencapai 85%.
Kejadian penyakit. Di Indonesia penyakit pullorum merupakan penyakit menular yang sering ditemui. Meskipun segala umur ayam bisa terserang pullorum tapi angka kematian tertinggi terjadi pada anak ayam yang baru menetas. Angka morbiditas pada anak ayam sering mencapai lebih dari 40% sedangkan angka mortalitas atau angka kematian dapat mencapai 85%.
Cara penularan
Penularan penyakit Pullorum dapat melalui 2
jalan yaitu:
-Secara vertikal yaitu induk menularkan kepada anaknya melalui telur.
-Secara horizontal terjadi melalui kontak langsung antara unggas secara klinis sakit dengan ayam karier yang telah sembuh, sedangkan penularan tidak langsung dapat melalui kontak dengan peralatan, kandang, litter dan pakaian dari pegawai kandang yang terkontaminasi.
-Secara vertikal yaitu induk menularkan kepada anaknya melalui telur.
-Secara horizontal terjadi melalui kontak langsung antara unggas secara klinis sakit dengan ayam karier yang telah sembuh, sedangkan penularan tidak langsung dapat melalui kontak dengan peralatan, kandang, litter dan pakaian dari pegawai kandang yang terkontaminasi.
Gejala klinis
·
Nafsu makan menurun
·
Feses (kotoran) kotoran
berwarna putih seperti kapur
·
Kotorannya menempel di sekitar
dubur berwarna putih
·
Kloaka akan menjadi putih
karena feses yang telah kering
·
Jengger berwarna keabuan
·
Mata menutup dan nafsu makan
turun
·
Badan anak ayam menjadi lemas
·
Sayap menggantung dan kusam
·
Lumpuh karena arthritis
·
Suka bergerombol
Diagnosis
Isolasi dan identifikasi salmonella pullorum
dapat diambil melalui hati, usus maupun kuning telur dapat dilakukan pembiakan
kedalam medium. Ayam karier yang sudah sembuh dapat diidentifikasi dengan
penggumpalan darah secara cepat (rapid whole blood plate aglutination test).
Pengobatan
Pengobatan Berak Kapur dilakukan dengan
menyuntikkan antibiotik seperti furozolidon, coccilin, neo terramycin, tetra
atau mycomas di dada ayam. Obat-obatan ini hanya efektif untuk pencegahan
kematian anak ayam, tapi tidak dapat menghilangkan infeksi penyakit tersebut.
Sebaiknya ayam yang terserang dimusnahkan untuk menghilangkan karier yang
bersifat kronis.
Pencegahan
Beberapa tindakan pencegahan yang dapat
dilakukan oleh para peternak ayam adalah:
·
Menjaga kebersihan lingkungan
hidup ayam.
·
Menjaga kebersihan kandang
dengan cara disucihamakan dengan menggunakan larutan kaporit ( takaran 1 :
1.000 ).
·
Pengapuran kandang.
·
Pembuangan kotoran ayam jauh
dari lokasi peternakan.
·
Perlindungan dari serangan
berbagai macam hewan liar.
·
Pengkarantinaan ayam yang
terserang penyakit.
·
Pemusnahan bangkai ayam (
dibakar atau dipendam ).
·
Ayam yang dibeli dari
distributor penetasan atau suplier harus memiliki sertifikat bebas salmonella
pullorum.
·
Melakukan desinfeksi pada
kandang dengan formaldehyde 40%.
·
Ayam yang terkena penyakit
sebaiknya dipisahkan dari kelompoknya, sedangkan ayam yang parah dimusnahkan.
f. Berak darah (Coccidiosis)
Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan
kurang, sayap terkulasi, bulu kusam menggigil kedinginan.
Pengendalian:
(1) menjaga kebersihan lingkungaan, menjaga
litter tetap kering;
(2) dengan Tetra Chloine Capsule diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula
Zuco tablet dilarutkan dalam air minum
atau sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayocox.
Kholera atau dikenal juga dengan nama fowl
cholera, avian pasteurellosis dan avian hemorrhagic septicaemia
merupakan salah satu penyakit infeksius yang banyak menyebabkan masalah di
peternakan ayam dan kalkun. Kholera merupakan penyakit bakterial yang umum
ditemukan pada peternakan kecil di Asia. Mortalitas dapat mencapai 80% terutama
pada musim penghujan. Penyakit ini biasanya menyerang ayam diatas 6 minggu
ditandai dengan adanya peningkatan angka kematian yang mendadak dan tidak
terduga. Kholera banyak ditemukan pada ayam yang stress akibat sanitasi yang
jelek, malnutrisi, kandang terlalu padat, dan adanya penyakit lain. Kalkun
lebih rentan terhadap penyakit ini dibandingkan dengan ayam, dan ayam yang tua
lebih rentan dibanding yang masih muda. Mengingat tingkat kerentanan dan
pengelolaan peternakan, kasus kholera di Indonesia lebih banyak ditemukan pada
ayam petelur dibandingkan dengan ayam pedaging. Hal ini terkait dengan masa
pemeliharaan ayam pedaging yang cukup pendek, serta kebiasaan peternak yang
akan memanen ayamnya lebih cepat apabila ditemukan kasus penyakit untuk
mencegah kerugian yang besar. Kholera disebabkan oleh Pasteurella multocida,
bakteri gram negatif yang ditemukan oleh Louis Pasteur pada tahun 1880-an. P.
multocida sangat rentan terhadap disinfektan biasa, sinar matahari dan
panas. Akan tetapi masih bisa bertahan sekitar 1 bulan di kotoran, 3 bulan di
karkas dan antara 2-3 bulan di tanah yang lembab. Infeksi dapat terjadi melalui
rute mulut dan saluran pernafasan.
Kholera dapat masuk ke peternakan melalui
burung, tikus, orang atau peralatan yang pernah kontak dengan penyakit.
Penyebaran antar flok dapat disebabkan oleh minuman yang terkontaminasi,
kotoran dan discharge hidung.
Pada kasus yang akut, kematian ayam merupakan
gejala pertama yang nampak. Demam, turunnya konsumsi pakan, discharge dari
mulut, diare dan gejala pernafasan dapat pula terlihat. Gejala lain termasuk
sianosis dan pembengkakan jengger. Ayam yang bertahan hidup menjadi kronis atau
dapat pula sembuh, sedangkan yang lain bisa mati karena dehidrasi. Pada kasus
lebih lanjut, ayam akan menunjukan gejala penurunan berat badan dan pincang
karena infeksi pada persendian.
Pada awal kasus angka kematian berkisar antara 5-15%
bahkan bisa lebih tinggi apabila terjadi bersamaan denga kasus penyakit lain.
Angka kematian akan menurun sampai 2-5% ketika kasusnya menjadi kronis. Ayam
yang tertular secara kronis dapat mati, tetap tertular dalam jangka waktu yang
panjang atau sembuh. Persentase yang tinggi dari ayam di dalam flok akan
menjadi carriers walaupun terlihat normal atau sehat dan merupakan sumber utama
penularan. Penyebaran P multocida didalam flok terjadi melalui eksresi dari
mulut, hidung, dan konjungtiva unggas yang sakit dan kemudian mengkontaminasi
lingkungan. Selain dari ayam yang selamat dari bentuk akut, kasus kronis
ditemukan pada ayam yang tertular agen yang tidak terlalu ganas.
Ayam yang tertular secara kronis akan
mengeluarkan agen penyakit sepanjang hidupnya. P. multocida dapat
ditemukan dalam semua jaringan pada unggas yang mati dengan gejala septicemia,
sehingga praktek kanibalisme juga merupakan faktor penyebaran yang sangat
penting bagi penyakit ini.
Diagnosa
Diagnosa positif hanya dapat dilakukan apabila
dilakukan isolasi serta identifikasi P. Multocida di laboratorium.
Diagnosa tentatif bisa dilakukan berdasarkan sejarah, gejala klinis dan
patologi anatomi. Walaupun sejarah dan gejala klinis menunjukan kemungkinan
ditemukannya kholera, agen penyebab sebaiknya tetap diisolasi sehinga isolat
dapat diuji untuk tingkat kepekaannya terhadap antibiotik.
Pencegahan
Pencegahan terbaik adalah melalui penerapan
biosecuriti yang baik, kontrol rodensia, dan hygiene peternakan. Selain itu
sebagai alat pencegahan, bacterin dapat digunakan pada umur 8 dan 12 minggu
serta vaksin pada umur 6 minggu. Semua langkah dasar dari program biosekuriti
diperlukan untuk mencegah masuknya penyakit. Orang sebagai sumber penularan
yang paling dominan harus dikontrol dengan baik. Hanya orang-orang yang perlu
masuk kandang saja yang bisa masuk kedalam kandang dan inipun harus melalu
prosedur pencucian tangan dengan sabun dan kalau memang memungkinkan untuk
selalu memakai pakaian kandang yang baru dan sepatu boot yang bersih. Program
sanitasi yang baik untuk kandang dan peralatan juga sangat penting, terutama
ketika persiapan memasukan unggas baru. Hal yang paling penting adalah
pembersihan dan disinfeksi peralatan pakan dan minum. Pengawasan yang ketat
untuk tiap pemasukan pakan, peralatan kandang dan juga orang sangat diperlukan
untuk mencegah masuknya kholera.
Berikut hal yang perlu diperhatikan untuk
mencegah kasus kholera:
1.
Ayam yang sakit dan mati di
pisahkan dari ayam yang sehat untuk kemudian di musnahkan (disposal yang baik)
2.
Apabila wabah telah terjadi,
dilakukan depopulasi, pembersihan dan desinfeksi kandang serta peralatan
kandang
3.
Jeda waktu antara ayam tua
yang di afkir dan penggantinya
4.
Kontrol rodensia dan hama
lainnya
5.
Sumber air minum yang aman dan
bersih
6.
Mencegah kontak antara ayam
dengan hewan lain dan burung liar
7.
Bacterin dan vaksinasi
8.
Pengobatan Jenis sulfa dan
antibiotik (sulfadimethoxine, sulfaquinoxaline, sulfamethazine,
sulfaquinoxalene, penicillin, tetracycline, erythromycin, streptomycin).
Penggunaan
vaksin atau bacterin
Vaksinasi dapat dilakukan
untuk mencegah penyakit ini, akan tetapi perlu diingat bahwa vaksinasi hanya
merupakan alat pencegahan bagi peternakan yang berisiko tinggi terkena kholera
karena berdekatan dengan peternakan tertular. Vaksinasi kholera sendiri
sebenarnya mempunyai risiko, sebagai contoh: vaksin hidup walaupun akan
memberikan pertahanan juga akan menghasilkan efek samping yang tidak
diharapkan. Bacterin killed, akan memberikan hasil tingkat antibodi yang
baik, tetapi hanya spesifik untuk strain yang digunakan.
Pengobatan
Pengobatan untuk kholera
sebaiknya dijadikan alternatif terakhir. Pengobatan hanya efektif apabila
dilakukan pada awal-awal kasus sebelum terlalu banyak ayam yang tertular dan
penyakit menjadi kronis. Walaupun pengobatan dapat mengurangi dampak dari wabah,
ayam tertular dapat saja kambuh lagi apabila pengobatan dihentikan. Sehingga
pengobatan perlu diperpanjang dengan penambahan obat ke pakan dan minuman.
Perlu diingat bahwa penggunaan antibiotik atau sulfa harus berdasarkan hasil
tes sensitifitas terhadap agen yang diisolasi dari lokasi kasus. Pengobatan
dapat mengurangi angka kematian dan mempertahankan tingkat produksi. Akan
tetepi apabila infeksi kronis sudah ditemukan, keuntungan pengobatan sangat
sulit untuk dapat dilihat. Sulfaquinoxaline sodium dalam pakan atau air minum
biasanya dapat mengontrol angka kematian, begitu pula halnya dengan
sulfamethazine dan sulfadimethoxine.
Penggunaan tetracycline dosis
tinggi dalam pakan (0.04%), air minum atau injeksi dapat pula bermanfaat untuk
pengobatan. Penicillin efektif digunakan untuk infeksi yang resisten terhadap
sulfa. Perlu diperhatikan bahwa pengobatan dengan sulfa akan menghasilkan
residu di daging dan telur. Antibiotik dapat digunakan dengan menggunakan
dengan dosis yang lebih tinggi dan jangka waktu yang cukup panjang untuk
menghentikan wabah. Mengingat adanya efek samping residu yang tidak diharapkan,
semua pengobatan sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter hewan yang dapat
menilai efektifitas dan keamanan dari penggunaan sulfa dan antibiotik ini.
h. Sindrom Kerdil
Ayam
Masih kerap terdengar bila
kita melakukan kunjungan lapangan ke peternak – peternak ayam pedaging
(broiler), adanya keluhan mengenai ketidak – seragaman ayam yang
dipeliharanya. Menurut penuturan mereka, pada saat doc tiba kondisinya terlihat
seragam, tetapi setelah ayam mulai menginjak usia di atas 14 hari, baru
terlihat adanya ayam yang terlambat pertumbuhannya.
Pertumbuhan yang tidak seragam
pada ayam broiler memang banyak penyebabnya seperti :
·
Doc berasal dari Bibit Muda
atau Bibit Tua Sekali
·
Multi strain dalam satu flock
/ kandang
·
Kurang tempat pakan dan tempat
minum
·
Kepadatan ayam di
kandang yang terlalu tinggi
·
Penyakit infectious seperti
Coccidiosis
·
Sindroma Kekerdilan pada
Broiler ( Runting and Stunting Syndrome )
Pada umumnya para peternak
berpendapat bahwa beberapa penyebab yang menyebabkan ayamnya tidak seragam
seperti karena doc, multistrain dalam satu kandang, kurang peralatan makan dan
minum, kepadatan ayam dalam kandang dan penyakit coccidiosis, mereka sudah
dapat mengatasinya di lapangan. Tetapi untuk sindroma kekerdilan atau runting
and stunting syndrome, para peternak masih meraba-raba penyebabnya, karena
kejadian di lapangan kadang ada dan kadang tidak ada atau hilang
dengan sendirinya.
Sindroma Kekerdilan pada
Broiler mempunyai berbagai ragam nama lain seperti :
·
Malabsorption Syndrome
·
Stunting Syndrome
·
Reovirus Malabsorption
·
Pale Bird Syndrome
·
Helicopter Disease
·
Brittle – bone Disease
Sindroma kekerdilan
didefinisikan sebagai : Sekelompok ayam (umumnya terjadi 5-40% populasi ) yang
mengalami laju pertumbuhan yang kurang pada kisaran usia 4-14
hari. Dimana setelah pada awalnya pertumbuhan tertekan, kemudian
kembali normal, tetapi tetap lebih kecil dari yang normal.
Bila kondisi di atas dialami
peternak broiler maka beberapa kerugian sudah nampak di depan mata seperti :
tingginya ayam culling; tingginya FCR; rataan berat badan di bawah standar;
berat badan yang sangat bervariasi, hal mana akan menjadi masalah bila ada
kontrak dengan “slaughter house” / rumah potong ayam; masalah dengan penjualan
karena banyaknya ayam yang kecil.
Penyebab
Ada beberapa faktor yang
menjadi penyebabnya yaitu :
·
Penyebab berasal dari
Pembibitan
·
Penyebab berasal dari
Penetasan / Hatchery
·
Penyebab berasal dari
Manajemen Produksi
·
Penyebab berasal dari Pakan /
Nutrisi
·
Penyebab berasal dari
Lingkungan
·
Penyebab berasal Penyakit
1.
Penyebab berasal dari
Pembibitan.
Beberapa hal yang berasal dari
Pembibitan yang dapat menyebabkan doc yang dihasilkan mengalami sindroma
kekerdilan antara lain :
·
Telur tetas kecil (telur tetas
yang berasal dari usia induk < 35 minggu dan atau biasanya pada saat puncak
produksi)
·
Maternal antibodi Reo-virus
yang diturunkan rendah, padahal DOC perlu Maternal Antibodi yang tinggi
·
Akan lebih parah apabila
induknya positif Salmonella enteritidis
·
Walaupun demikian kekerdilan
bukan merupakan penyakit yang diturunkan
2.
Penyebab berasal dari
Penetasan / Hatchery.
Beberapa hal yang berasal dari
Penetasan / Hatchery yang dapat menyebabkan doc yang dihasilkan mengalami
sindroma kekerdilan antara lain :
·
Waktu koleksi telur tetas yang
terlalu lama
·
Tidak dilakukannya grading
telur tetas yang akan dimasukkan ke mesin tetas
·
Bercampurnya telur tetas yang
berasal dari usia induk yang sangat jauh berbeda
·
Terlalu lama proses penanganan
di ruang seleksi sehingga doc mengalami stress
·
Kurang representatifnya alat
angkut doc (chick van) dari Hatchery ke Peternak / kandang pemeliharaan.
3.
Penyebab berasal dari Manajemen
Produksi
Manajemen Produksi juga dapat
menjadi penyebab terjadinya sindroma kekerdilan seperti :
·
Biosecurity yang buruk
·
Farm terdiri dari beberapa
usia (multi ages)
·
Kurang baiknya kualitas doc
yang dipelihara
·
Penanganan doc yang kurang
baik terutama waktu periode brooding
·
Cara pemberian, kualitas dan
kuantitas pakan yang diberikan tidak benar
4.
Penyebab berasal dari Pakan /
Nutrisi
Kandungan yang terdapat pada
pakan jika kurang atau berlebihan kadang menimbulkan pertumbuhan yang kurang
baik bagi ayam yang dipelihara misalnya
·
Gejala sering seperti ayam
yang terserang mycotoxicosis, khususnya Aflatoxicosis
·
Penggunaan Bungkil Kacang
Kedelai yang berkualitas rendah
·
Penggunaan Canola Meal dan
Protein Hewani lebih daripada 8%
·
Tidak ada atau rendah
kandungan Natrium (khusus di Asia)
·
Penggunaan vitamin yang
kurang, khususnya pada pakan Breeder.
5.
Penyebab berasal dari
Lingkungan.
Menempatkan ayam pada kondisi
lingkungan yang kurang kondusif akan juga mengakibatkan ayam terkena sindroma
kekerdilan, seperti :
o
Lingkungan kandang yang
bersuhu dan kelembaban terlalu tinggi
o
Liingkungan kandang yang
terlalu padat populasi ayamnya dan terdiri dari berbagai usia
o
Lingkungan kandang merupakan
daerah endemik penyakit yang bersifat imunosupresif.
o
Penyebab berasal dari Penyakit.
·
Ada beberapa penyakit yang
dapat memicu timbulnya sindroma kekerdilan, dimana penyakit tersebut umumnya
menimbulkan stress dan khususnya bersifat immunosupresif, seperti :
o
Infeksi Reo virus
o
Infeksi Mareks Disease, hal
ini dapat terjadi terutama di Asia karena Broiler di Asia tidak divaksinasi
o
Chicken Anemia Virus,
vaksinasi tidak dilakukan di beberapa negara
o
ALV – J, diduga ada korelasi
positif dengan sindroma kekerdilan
o
Infectious Bursal Disease /
Gumboro, beberapa negara hanya memakai strain klasik untuk vaksinasinya
o
Avian Nephritis Virus
o
Reaksi yang berlebihan dari
vaksinasi ND dan IB
·
Penyebab utama yang paling
berperanan adalah Reo virus dengan spesifikasi sebagai berikut :
o
Virus tidak berselubung /
amplop, tahan panas dan dapat hidup
o
pada 600 C selama 8
– 10 jam
o
pada 560 C selama
22 – 24 jam
o
pada 370 C selama
15 – 16 minggu
o
pada 220 C selama
48 – 51 minggu
o
pada 40 C selama
lebih dari 3 tahun
o
pada - 630 C selama
lebih dari 10 tahun
Penularan
·
Penularan dapat terjadi secara
horizontal
·
Melalui jalur respirasi
·
Penularan secara vertikal
dengan suatu percobaan dengan cara inokulasi induk usia 15 bulan, ternyata pada
doc hasil tetasannya (17 – 19 hari post inokulasi) mengandung virus reo
Gejala
Klinis
Biasanya mulai terlihat pada
usia 4 – 8 hari dengan ciri-ciri :
·
Malas bergerak
·
Bulu kusam
·
Coprophagia (faeces / litter
eating)
·
Bila di uji gula darahnya “
Hypoglycaemic ”
·
Hanya sebagian populasi yang
terkena dengan kategori :
a. 5 – 10 % populasi dengan kategori RINGAN
b. 10 – 30 % populasi dengan kategori BURUK
c. 30 % populasi dengan kategori BENCANA
d. Biasanya terlihat pada usia 2 minggu :
e. Bulu sekitar kepala dan leher tetap “ Yellow Heads”
f. Bulu primer sayap patah / dislokasi “ Helicopter Birds “ / “ Stress
Banding”
g. Tulang kering / betis berwarna pucat
h. Jika diperiksa kotorannya masih utuh / makanan hanya lewat saja.
i. Colibacillosis
Collibacillosis adalah
Penyakit infeksius pada unggas yang disebabkan oleh kuman Echerichia coli
yang pathogen / ganas baik secara primer maupun secara sekunder. Colibacillosis
pertama kali ditemukan pada tahun 1894, setelah itu banyak kejadian-kejadian
colibacillosis sehingga memperkaya dan saling melengkapi mengenai penyakit ini
baik kejadian di lapangan maupun penelitian di laboratorium.
Kuman pada umumnya menular
secara horizontal, dan secara garis besar dibagi menjadi 2 penyebab utama yaitu
:
a.
Dari dalam, yaitu yang berasal dari anak
ayam / ayam itu sendiri, seperti kejadian Radang pusar atau Omphalitis, Stress
ataupun Dehydrasi akibat perjalanan. Dalam saluran pencernaan ayam ada ≤
106 /gr, dimana 10 – 15 % adalah berpotensi menjadi pathogen /
ganas.
b.
Dari luar, yaitu
yang berasal dari kontaminan lingkungan sekitar / area kandang dan atau yang berasal
dari bahan sapronak yang tidak bersih misalnya kontaminan berasal dari pakan,
air dan udara yang tercemar Escherichia coli.
Walaupun penyebabnya sama
yaitu infeksi bakteri Escherichia coli, tetapi di lapangan banyak dikenal
berbagai macam penyakit yang merupakan berbagai bentuk manifestasi akibat
terinfeksi bakteri ini, diantaranya adalah :
1.
Kematian Embrio / Omphalitis
2.
Air Sacculitis / Radang Kantung Hawa
3.
Colisepticemia/ Koliseptisemia
4.
Panophthalmitis
5.
Swolen Head Syndrome
6.
Coli Granuloma / Hjarres Diseases
Pencegahan
·
Usahakan agar anak
ayam yang dipelihara berasal dari pembibitan yang bebas dari penyakit
pernapasan seperti CRD, IB dan ND.
·
Jika anak ayam sudah terlanjur
masuk di kandang, anak ayam yang sudah terinfeksi dengan bakteri Escherichia
coli agar diafkir.
·
Jalankan selalu prinsip water
treatment / pengobatan air secara efektif dan berkesinambungan, untuk
menurunkan populasi bakteri dalam air minum.
·
Perhatikan selalu ventilasi,
agar ayam selalu mendapat udara yang segar, bersih dan sehat.
·
Laksanakan biosecurity secara
terpadu, agar kondisi farm sesedikit mungkin mengandung kontaminan khususnya
bakteri Escherichia coli.
·
Jaga selalu kekeringan litter
kandang agar tidak terlalu kering juga tidak terlalu basah, Untuk itu perlu
diperhatikan selalu kepadatan populasi agar kondisi kekeringan litter mudah
untuk dikendalikan.
·
Spray ruang kandang setiap
hari menggunakan campuran air dengan BIODES-100, SEPTOCID atau GLUTAMAS sangat
berguna disamping untuk menjaga kelembaban juga mengurangi density bakteri di
ruang kandang.
·
Bila ayam selalu terserang
infeksi Escherichia coli yang parah pada usia di atas tiga minggu, tidak ada
salahnya lakukan penyuntikan doc pada usia 4 hari pertama dengan antibiotika
secara subkutan bisa dengan memakai GENTIPRA atau HIPRASULFA – TS sesuai dengan
dosis yang dianjurkan.
·
Alternatif vaksinasi inaktif
kombinasi O2K1 dan O78K80, dalam pelaksanaannya masih terjadi pro dan kontra
akan efektifitas kegunaannya, karena belum ada hasil yang sangat nyata.
·
Hal yang paling penting untuk
dilakukan agar serangan infeksi bakteri Escherichia coli tidak menjadikan ayam
peliharaan menjadi menderita adalah dengan cara menciptakan ayam senyaman
mungkin tinggal dalam kandangnya, dengan kata lain jangan sampai ayam mengalami
stress, karena stress merupakan pencetus utama ayam terserang infeksi bakteri
ini.
Pengobatan
Kuman E. coli kebanyakan
sensitif / peka terhadap beberapa antibiotika seperti kelompok aminoglukosida
(NEOXIN), polipeptida (MOXACOL), tetrasiklin, Sulfonamida, trimethoprim
(COLIMAS) dan Quinolon (CIPROMAS, ENROMAS).
Apabila setelah diobati
dengan berbagai antimikroba tidak terjadi perubahan kearah penyembuhan, maka
perlu dilakukan uji sensitivitas.
Pencegahan dengan menggunakan
obat suntik Hiprasulfa – TS dan Gentipra, serta spray kandang dengan
desinfektan Biodes-100, Septocid dan Glutamas, maupun pengobatan dengan
menggunakan Neoxin, Moxacol, Colimas, Cipromas maupun Enromas, agar
diperhatikan benar cara dan dosis pemakaiannya dan dilaksanakan sesuai dengan
anjuran dari pembuatnya, agar mendapatkan efek pengobatan yang maksimal.
j. Pilek Pada Ayam
Penyakit pilek yang menyerang
pada ayam masuk ke dalam kategori penyakit yang berbahaya dikarenakan penyakit
ini dapat menular dengan sangat cepat dan dapat menyerang ke semua jenis ayam.
Ayam yang menderita penyakit pilek pergerakannya berubah menjadi pasif. Gejala
lain yang muncul pada ayam yang terserang pilek adalah nafsu makannya
menghilang, kepalanya bergoyang – goyang dan sering bersin – bersin. Jika
kondisi ini dibiarkan berlarut – larut, kondisi ayam akan semakin parah. Dari
lubang hidung dan kedua matanya akan keluar semacam cairan yang pada akhirnya
nanti dapat membuat hidung ayam tersumbat sehingga membuat ayam menjadi susah
bernafas. Penyakit ayam ini disebabkan oleh bakteri haemophilus galloinarum
dan dapat menyebar melalui makanan, minuman dan udara. Untuk mengatasi
penyebaran penyakit pilek ini, peternak ayam harus segera memindahkan ayam yang
sedang sakit ke kandang khusus untuk dikarantina.
Pengobatan
Beberapa obat yang dapat
digunakan untuk mengobati penyakit pilek pada ayam adalah neofet, kapsul
anti snot dan bubuk coryuit. Dosis pemakaian obat dan cara
pemberian obat harus disesuaikan dengan petunjuk yang ada dikemasan obat.
Selain itu, penyakit ini juga dapat disembuhkan dengan cara menyuntikkan cairan
streptomycim berdosis 0,2 cc / suntikkan / hari. Proses penyuntikkan
berlangsung selama 5 hari dengan bagian tubuh ayam yang disuntik adalah leher
bagian belakang. Beberapa jenis obat yang biasa dikonsumsi oleh manusia
ditengarai juga dapat digunakan untuk mengobati ayam yang sedang terserang
penyakit pilek. Mereka adalah refagan dan bodrex. Caranya adalah
: satu tablet obat dilarutkan ke dalam 1 sendok air teh dan kemudian diminumkan
kepada ayam.
Pencegahan
Pemberian antibiotik (streptomycin
dan sulfanilamida) secara berkala dapat membantu mencegah ayam tidak
mudah terserang pilek. Vaksinasi (corryta naccin dan vaksin snot)
juga harus dilakukan ketika ayam masih berumur 2 minggu, 1 bulan, 3 bulan dan
menjelang usia dewasa.
h. Tungau (kutuan)
Gejala: ayam gelisah, sering mematuk-matuk dan
mengibas-ngibaskan bulu karena gatal, nafsu makan turun, pucat dan kurus.
Pengendalian:
(1)
sanitasi lingkungan kandang
ayam yang baik; pisahkan ayam yang sakit dengan yang sehat;
(2)
dengan menggunakan karbonat
sevin dengan konsentrasi 0,15% yang encerkan dengan air kemudian semprotkan
dengan menggunakan karbonat sevin dengan konsentrasi 0,15% yang encerkan dengan
air kemudian semprotkan ketubuh pasien. Dengan fumigasi atau pengasepan
menggunakan insektisida yang mudah menguap seperti Nocotine sulfat atau Black
leaf 40.
2.3 Tingkat Konsumsi di Masyarakat
Tingkat konsumsi daging ayam
broiler meningkat apabila dipengaruhi faktor-faktor sebagai berikut:
1.
Ketersediaan daging ruminansia yang rendah sehingga kebutuhan daging
dipenuhi oleh daging unggas (ayam).
2.
Harga daging unggas lebih murah dibandingkan dengan daging ruminansia.
3.
Perayaan hari-hari besar misalnya hari megang, hari raya Idul Fitri, dan
hari raya Idul Adha.
Berikut data yang kami peroleh
dari hasil observasi di Pasar Penayong Banda Aceh Rabu, 26 Februari 2014. Data
berikut merupakan data kuantitatif dan disajikan dalam bentuk tabel.
Tabel 1. Perbandingan harga
daging ruminansia dengan daging ayam broiler
Jenis
Daging
|
Harga /kg
|
Ayam Broiler
|
Rp 25.000
|
Kambing
|
Rp 65.000
|
Sapi
|
Rp 98.000
|
Tabel 2. Pengaruh perayaan
hari besar terhadap tingkat konsumsi daging ayam broiler di kota Banda Aceh
Jenis Hari
|
Ayam yang
Dijual /hari
|
Ayam yang
Terjual /hari
|
Hari Biasa
|
100 ekor
|
98 ekor
|
Idul Adha
|
150 ekor
|
145 ekor
|
Idul Fitri
|
245 ekor
|
245 ekor
|
Keterangan pada Tabel 1.
“Jenis Daging : Ayam Broiler,
Kambing, Sapi” merupakan data kategori. Sedangkan “Harga/kg” merupakan data
rasio.
Keterangan pada Tabel 2.
“Jenis Hari: Hari Biasa, Idul
Adha, Idul Fitri” merupakan data kategori. Sedangkan “Ayam yang Dijual/hari”
dan “Ayam yang Terjual/hari” merupakan data rasio.
![]() |
|
![]() |
Dapat diketahui bahwa perayaan
hari-hari besar sangat berpengaruh terhadap tingkat konsumsi ayam broiler.
Tingkat konsumsi tertinggi yaitu pada hari perayaan Idul Fitri, yaitu jumlah
ayam yang terjual 2.5 x lipat lebih banyak dari pada hari biasa (50%).
Ada pula faktor penyebab tingkat konsumsi daging ayam
broiler menurun, yaitu : wabah penyakit unggas seperti virus flu burung (Avian
Influenza), Pasteurellosis, Coccidiosis, serta penyakit-penyakit unggas lainnya
yang menyebabkan konsumen enggan mengonsumsi daging unggas. Hal ini dapat
diatasi dengan pemeliharaan kandang yang baik, pemberian vaksin, serta pemilihan
bibit-bibit unggul dan sehat.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari
data yang kami peroleh, dapat disimpulkan bahwa banyaknya ayam broiler yang 100 ekor/ hari dengan kisaran harga sekitar
Rp. 25.000/ ekor. Peningkatan
penjualan daging ayam potong biasanya terjadi ketika hari-hari besar keagamaan,
seperti hari raya Idul Fitri maupun Hari Raya Idul Adha. Pada umumnya penjualan
daging ayam broiler
setiap harinya relatif
tetap karena pasokan ayam dari
peternak sebanding dengan permintaan pasar
sehingga harga ayam relatif tetap tanpa kenaikan yang berarti. Jadi, tingkat konsumsi
daging ayam potong di Kota Banda Aceh cenderung tetap dan meningkat pada
hari-hari besar keagamaan.
3.2 Saran
Saran dari kami yaitu agar penyakit-penyakit pada
unggas dapat dicegah dengan baik demi kesehatan dan kepuasan konsumen serta
keuntungan produsen ayam broiler. Semoga makalah ini bermanfaat dan
menambah wawasan kita.
DAFTAR
PUSTAKA
Cahyono dan Bambang, 1995. Cara Meningkatkan Budidaya Ayam Ras Pedaging (Broiler). Penerbit Pustaka Nusatama:
Yogyakarta.
Sugandi, 1978. Tatalaksana Pemeliharaan Ayam Pedaging
Strain MB 202-p Periode Starter–Finisher. PT. Janu Putro Sentosa: Bogor.
R, 2008. Panduan Mengelola Peternakan Ayam Broiler Komersial. Agromedia Pustaka: Jakarta




LAMPIRAN

Tidak ada komentar:
Posting Komentar